Home Nasional Fraksi PKS Tegas Tolak RUU Omnibus Law, Ini Alasannya

Fraksi PKS Tegas Tolak RUU Omnibus Law, Ini Alasannya

72
1

JAKARTA, (BERITASATOE.COM) — Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtra (PKS) Mardani Ali Sera mengatakan Fraksi PKS DPR RI secara tegas menolak Rancangan Undang Undang (RUU) Omnibus Law, karena banyak norma aturan yang dibuat masih bertentangan dengan norma konsitusi.

“Fraksi PKS menolak RUU omnibus law sebagai UU yang menggunakan pendekatan singkronisasi dan harmonisasi seharusnya meta-narasinya sesuai dengan norma dalam konsitusi UUD’ 1945. Sedangkan ini tidak! Masih banyak pasal-pasal yang masih bertentangan dengan norma itu,” kata Mardani, Senin (05/10).

Rancangan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja (RUU Ciptaker) telah disetujui Badan Legislasi DPR dan pemerintah.

Ada dua Fraksi yang menolak, yaitu PKS dan Demokrat. Beleid Omnibus Law tersebut selanjutnya akan disahkan menjadi Undang-Undang (UU) dalam Rapat Paripurna DPR pada Kamis, (08/10) pekan ini.

Legislator asal pemilihan Jakarta Timur itu mengatakan kerja kita sebagai legislatif dalam proses pembuatan aturan tidak boleh mengubah landasan filosofis Undang-undang eksisting.

“Seharusnya substansi Omnibus Law harus memiliki koherensi dengan tujuan penciptaan lapangan kerja dan pemajuan UMKM, Omnibus Law tidak boleh bertentangan dengan norma Konstitusi. Arah dan jangkauan pengaturan dari RUU Cipta Kerja setidaknya berdampak terhadap 1.203 Pasal dari 79 undang-undang,” ujar Mardani.

Hal lain yang Ia kritik yaitu praktik yaitu masih adanya ‘menyusupkan’ pasal-pasal tidak populer atau pasal-pasal yang mengandung kepentingan tertentu.

“Dari awal Proses pembahasan RUU ini secepat kilat, ada dugaan penyisipan pasal-pasal yang ‘pesanan’. Dan berhatap publik tidak menyadari bahwa pasal tersebut ada, namun di saat bersamaan menyisipkan ketentuan yang justru merugikan rakyat,” kata Mardani.

Secara Umum, Mardani mengatakan RUU Omibus law ini masih perlu banyak lagi ditinjau pasal per pasalnya karena terdiri dari banyak UU yang akan diubah sekaligus serta memiliki implikasi yang luas terhadap praktik kenegaraan dan pemerintahan di Indonesia.

“Diperlukan kecermatan dalam pembahasannya dan pertimbangan yang mendalam dari aspek formil dan materiil agar sejalan dengan koridor politik hukum kebangsaan yang telah kita sepakati bersama,” ujar Mardani.

Terakhir Secara khusus, kami di Fraksi PKS cukup mengapresiasi sejumlah ketentuan dalam RUU Cipta Kerja terkait kemudahan berusaha yang apabila dijalankan secara konsisten dan konsekuen berpotensi memangkas dan menekan biaya berusaha di Indonesia.

“Kita apresiasi beberapa masukan substansi yang kami mencabut pembahasan sejumlah UU seperti UU Pers, UU klaster Pendidikan dan UU Kebidanan. Namun, Kami Fraksi PKS menolak UU ini disahkan menjadi UU karena alasan masih banyak pasal RUU Omnibus law yang bertentangan dengan metanarasi UUD kita,” pungkasnya. (SB/red)

1 COMMENT

Leave a Reply