Home Bisnis FGD Penguatan Kelembagaan Koperasi Perempuan Berorientasi Koperasi Naik Kelas

FGD Penguatan Kelembagaan Koperasi Perempuan Berorientasi Koperasi Naik Kelas

39
0

CIANJUR, (BERITASATOE.COM) – Pjs. Bupati Cianjur Dr. H. Dudi Sudradjat Abdurachim, ST,.MT. menghadiri acara focus group discussion penguatan kelembagaan koperasi perempuan berorientasi koperasi naik kelas di Hotel Gino Feruci Jalan Abdullah Bin Nuh Cianjur. Jum’at, (16/10)

Hadir Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM RI. Prof. DR. H. Rully Indrawan, M.Si, Kepala Cabang PNM Sukabumi, M. Tahir Ansari, Kepala Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cianjur, Drs. H. Tohari Sastra, M.Si, Ketua Panitia/Asdep Tata Laksana Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM RI DR. M. Hanafiah SE,.MM serta para peserta/pelaku Usaha UKM.

“ Dalam usaha apaun atau bisnis apaun termasuk koperasi kunci suksesnya diantaranya adalah kecepatan pelayanan, selain itu juga merupakan kegiatan gorong royong, sharing ekonomi, koperasi juga merupakan sebagai pengelola keuangan dimualai dari perorangan, tingkat keluarga dan tingkat perusahaan” Ungkap Pjs Bupati.

Lanjutnya Pjs Bupati menjelaskan bahwa peran teknologi didalam koperasi sangat penting, hanya dengan handphone di genggaman kita, produk yang kita punya bisa sampai ke belahan dunia/seluruh dunia hingga bisa memasarkannya, tapi jangan lupa harus hati – hati juga dengan teknologi bisa bahaya jika tidak bijak menggunakannya. Kata Pjs Bupati.

Sementara itu Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM dalam Prof Rully Indrawan dalam kesempatan itu mengatakan, cara untuk membangun skala usaha dan meningkatkan daya saing produk UMKM adalah dengan berkoperasi. “Kita harus mendorong Koperasi Koperasi di Cianjur menjadi Rumah Besar bagi seluruh produk UMKM,” Kata Prof Rully.

Lanjutnya , Prof Rully meyakini hal itu karena di Cianjur banyak produk yang dihasilkan UMKM, termasuk industri rumahan yang dikerjakan komunitas perempuan. “Jika pelaku usaha jalan sendiri-sendiri, usahanya tidak akan efisien. Dengan bergabung dalam wadah koperasi akan tercipta skala efisien. Dari mulai efisien biaya produksi, promosi, hingga pengadaan bahan baku,” Katas Prof Rully.

Artinya, Prof Rully, para pelaku UMKM bisa fokus dalam produksi, termasuk meningkatkan kualitas produk. Sementara urusan pemasaran akan dilakukan koperasi. “Ini yang dinamakan sharing economy atau ekonomi kolaborasi,” Kata Prof Rully.

Oleh karena itu, Prof Rully mendorong Koperasi Paguyuban Pasundan untuk berbasis digital, termasuk dalam memasarkan produk-produk yang dihasilkan para anggotanya.

“Koperasi dan UMKM harus mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Ini saatnya untuk memasuki ekosistem digital. Harus segera membuat aplikasi marketplace atau e-commerce yang menjual produk-produk UMKM Cianjur,” Kata Prof Rully.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Rully berbincang dengan tiga penerima Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) asal Cianjur, yang juga merupakan anggota Koperasi. Ketiganya mendapat bantuan modal sebesar Rp2,4 juta.

Ketiga penerima BPUM itu adalah Nati (UMK makanan ringan), Larasiti Lestari (perajin hasil bumi gula aren), dan Reni Nuraeni (perajin handicraft). Bagi Nati, bantuan modal tersebut akan digunakan untuk menambah stok bahan baku (tepung tapioka dan minyak goreng). “Dengan begitu, produksi keripik dan kerupuk bisa terus berjalan,” kata Nati yang berasal dari Cikalong Kulon, Cianjur.

Pemasaran produk Nati dengan merek Meira Snack sudah dilakukan dengan cara online. “Pemasaran sudah masuk ke Jakarta dan Sumedang,” kata Nati.

Sementara Reni memproduksi kerajinan rajut berupa tas, souvenir, dan sebagainya. “Bantuan Presiden sebesar Rp2,4 juta itu saya pergunakan untuk modal membeli bahan. Dan dari perputaran uang itu, akan saya belikan mesin jahit,” ucap Reni.

Dengan pemasaran online, produk hasil rajutan Reni sudah menembus Bogor dan Tangerang. “Banpres ini sangat bermanfaat bagi saya dan pelaku usaha mikro lainnya,” aku Reni.

Sedangkan bagi Larasiti, Banpres digunakan untuk memperkuat bahan baku pembuatan gula aren. “Gula aren saya bentuk seperti uang koin. Jadi, orang mengenalnya sebagai gula koin,” kata Larasiti.

Dengan tersedianya bahan baku, aku Larasiti, produksinya bisa berjalan kontinu. “Pemasaran gula aren koin masih sebatas wilayah Cianjur saja. Ke depan, saya akan masuk ke pasar online juga,” pungkas Larasiti. (Adjie/hms)

Leave a Reply