Home Hiburan Sutradara Muda Raditya Irfan Dalam Film “SENJA & LARA” Ukir Pesan Untuk...

Sutradara Muda Raditya Irfan Dalam Film “SENJA & LARA” Ukir Pesan Untuk Kaula Muda

150
0

BANDUNG, (Beritasatoe.com) —

Raditya Irfan S.Kom, Sutradara muda asal kabupaten Bandung, kembali berkarya lewat film “Senja & Lara”, sebuah Film yang menceritakan anak muda, seorang laki-laki pekerja keras di sebuah kampung, di Ciwidey tepatnya.

Melalui wawancara khusus dengan kami (Tim Media), Kang Didit Menggambarkan pesan-pesannya lewat sebuah Film. Minggu 15/11/2020.

“Sosok seorang sarjana pertanian yang ingin mengangkat cerita bahwa, menjadi seorang petani muda itu tidak sulit, yang penting punya visi kedepan yang mau belajar, bekerja keras serta mau berjuang mewujudkannya” papar dia singkat.

Kang Didit pun menjelaskan bahwa, “Realita nyata di zaman sekarang, dimana anak muda terkini, seakan-akan malu jadi petani, padahal di luar sana, di daerah luar terdapat bukti banyak Petani muda yang sukses” tegasnya.

“Bahwa, menjadi petani itu gak gengsi, dan ternyata menjadi petani muda juga keren kalau menghasilkan, banyak keuntungan materi intinya” ungkap dia bersemangat.

“Dan saya, khusus di Film ini, ada pesan menyindir juga kepada Pemerintah, bahwa harga pupuk itu susah ( mahal )” ungkap Kang Didit.

“Sudah jadi fakta kian hari semakin sempitnya lahan pertanian, karena banyaknya orang kota atau cukong-cukong yang banyak membeli tanah di daerah perkampungan di sini untuk dijadikan villa” keluhnya

Kang Didit pun berkelakar khas sunda, “Jadi tanah beak ku semah (tanah habis dipakai tamu) ibaratnya” celotehnya.

Dibagian akhir wawancaranya dengan kami, terungkap segudang harapan kepada kaum muda lewat Filmnya, secara khusus Kang Didit sampaikan, lewat corong media disamping lewat karya Film tentunya.

“Saya berharap, khususnya anak muda di zaman Milenial ini, jangan malu jadi petani”

“Apalagi didorong dengan teknologi canggih, dimana seorang pemuda milenial, membuka gagasan baru, seakan seorang petani atau berkebun, dan teknologinya tersebut dibawa dan diterapkan kegarapan pertaniannya” harap dia.

“Di Film ini, seorang “HANUM” pemeran laki-lakinya itu ingin membuka pasar sendiri, di daerahnya sendiri seperti di kabupaten Bandung” paparnya menjelaskan.

“Bahwa hasil-hasil dari pertanian itu gak usah dijual ke pasar-pasar yang ada di kota, atau di daerah-daerah lain, tapi si Hanum itu sendiri tuh membuka, mengajak kepada yang lain untuk memasarkannya sendiri di daerahnya sendiri” pungkasnya.

Editor : (Yudika)

Leave a Reply