Home Bogor Raya Sistem Belajar Daring di Kecamatan Sukajaya Terganjal Blank Spot Area “Mutu Pendidikan...

Sistem Belajar Daring di Kecamatan Sukajaya Terganjal Blank Spot Area “Mutu Pendidikan Anak Bangsa Dipertaruhkan”

147
0
HPN dan HUT PWI Ke 75 Tahun

SUKAJAYA, (Beritasatoe.com) – Untuk mendapatkan jaringan internet agar bisa mengikuti sistem belajar daring selama masa pandemi covid – 19 ini, para peserta didik di sejumlah wilayah Kecamatan Sukajaya di bagian barat Kabupaten Bogor, terpaksa harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Hal itu terpaksa dilakukan karena tempat tinggal mereka masuk area yang tidak terjangkau oleh jaringan internet atau kawasan tidak ada sinyal, (blank spot for networks area, ing – red). Jika tidak dilakukan, mereka akan ketinggalan berbagai informasi yang disampaikan pihak sekolah melalui pesan WA.

“Gak jarang anak saya terpaksa harus nginep di rumah temannya di ciputih jaya raharja, jaraknya sekitar 5 – 6 km dari sini. Soalnya kalo gak gitu pasti dia ketinggalan informasi dari gurunya. Abis disini sama sekali gak ada sinyal”, beber Apih Ibro, tokoh masyarakat Kampung Cibadak, Desa Sukamulih, Kecamatan Sukajaya, orang tua dari Irwan, salah satu siswa kelas 7 di Smp Negeri 1 Sidoger, Sukajaya, saat ditemui di kediamanya, pekan lalu.

“Kalo saya dikasih tau temen ada tugas dari sekolah, baru saya pergi ke ciputih jaya atau daerah lain yang ada sinyal. Kalo gak ada yang ngasih tau ya udah aja ketinggalan pelajaran”, timpal Irwan, anak Apih Ibro.

Bencana longsor yang melanda Kecamatan Sukajaya di awal tahun 2020 lalu, lanjut Apih Ibro, masih menyisakan trauma bagi masyarakat Sukajaya. Ditambah lagi guncangan penyebaran virus corona yang makin menghimpit ekonomi masyarakat. Hal itu jadi pemikiran panjang baginya.

Para orang tua siswa dikampungnya, lanjut Ibro, tentunya sangat ingin jika anaknya pintar, berprestasi dan cukup pendidikan. Tapi kondisi ekonomi yang terjadi saat ini membuat mereka agak pesimis.

Bayangkan, sejak penyebaran virus corona, anak – anak libur sekolah. Kegiatan Belajar Mengajar (Kbm) pun dilakukan dengan sistem online atau jarak jauh. Orang tua mau tidak mau harus beli hp android. Ditambah pulsa kuota, sementara sebagian besar wilayah Sukajaya masuk daerah yang tidak terjangkau oleh jaringan operator manapun.

“Hp disini gak kepake pak. sinyal apa juga gak dapet”, imbuh Ibro.

Berdasarkan penelusuran tim liputan, selama di lokasi, jaringan internet semua operator tidak tertangkap. Bahkan, tim juga kesulitan mendapat sinyal, jangankan untuk melakukan panggilan telepon, hanya sekedar berkomunikasi melalui pesan singkat sms pun sangat lah sulit.

Hasil usaha tani sebagai mata pencaharian dominan warga setempat hanya cukup untuk memehuni kebutuhan dapur dan isi perut keluarga. Sehingga memaksa para orang tua disana untuk kerja ekstra demi menambah penghasilan tambahan.

“Kerja apa aja pak, yang penting dapet pemasukan tambahan supaya anak – anak bisa terus sekolah. Ada yang kula – kuli, ada yang ikut ngelubang, ngojek, pokoknya apa aja, yang penting anak – anak kami pada pinter gak kayak orang tua nya”, harap Saepudin, warga Desa Sukajaya.

Terbatasnya keberadaan sekolah menengah dan tingkat atas di Sukajaya mengakibatkan standar pendidikan warga di bagian barat Kabupaten Bogor ini sangat rendah. “Warga kami disini rata – rata lulusan sd. Soalnya disini smp dan smu itu gak ada. Ada juga jauh. Berat di biaya sehari harinya. Belum bayar ini bayar itu”, tandas Saepudin.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah panjang bagi pemerintah daerah, khususnya dinas pendidikan. Orang tua peserta didik berharap kepada para calon pemimpin baru paska Bogor Barat di mekarkan dari wilayah Kabupaten Bogor mendatang, agar pertaruhan hidup mereka untuk pendidikan anaknya dapat mendapat hasil yang seimbang. (Egy)

Leave a Reply