Home Artikel/Opini Fauzan Juara Kopi Dunia Asal Bandung : Petani Kopi Butuh Perhatian Pemerintah

Fauzan Juara Kopi Dunia Asal Bandung : Petani Kopi Butuh Perhatian Pemerintah

244
0

KAB.BANDUNG, (Beritasatoe.com) –
Kompetisi cita rasa kopi kering original tingkat dunia yang dilaksanakan Agence four la Valorisation des Produits Agicoles (AVPA), berlangsung di Paris ibu kota Prancis pada tahun 2019, adalah icon penting bagi Fauzan din Yamin, warga asli Indonesia.

Merupakan moment bersejarah bagi Fauzan salah satu putra terbaik di bidang Produk Kopi Original asal Indonesia dalam ajang AVPA tersebut, dimana dia menggaet urutan juara ke 2 (dua), mendapat silver di APVA Paris 2019 dalam kategori doux & Fruity, kopi yang memiliki rasa yang kuat di rasa buah dan manis.

Fauzan memperkenalkan Produk Kopi Original AEKI (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia) Mega Puntang Kecamatan Banjaran Kab. Bandung Prov. Jawa Barat, menjadi kebanggaan tersendiri khususnya warga Kabupaten Bandung.

Keterangan: Fauzan DY (Mega Puntang Jabar) (Kiri) Yang Meraih Gelar Juara Ke 2 Pada Kompetisi Produk Kopi Tingkat Dunia Di Prancis, Dipandang Sebelah Mata Oleh Pemerintah

Menurut pencarian sumber informasi valid yang dilakukan Tim Media, AVPA itu sendiri di Prancis merupakan Suatu Badan yang berperan memberi Penilaian setingkat dunia pada produk produk Pertanian, Kompetisi Citarasa Kopi Internasional salah satunya.

Sengaja dalam hal ini, Kami (Tim Media), pada kemarin sore 26/12/2020, bertandang ke Cafe Coffee Milik Fauzan di Belahan Rancamanyar, mewawancari dia tentang ikhwal kopi sambil menikmati citarasa produknya.

Paparan Fauzan dalam obrolan dengan kami mengungkapkan.

“Kebanggan bagi saya sebagai penyandang Sertifikat juara dunia ke dua di Kompetisi Prancis, produk citarasa kopi kering Original asal Indonesia, walaupun terselip ada kekecewaan” ungkapnya lesu.

Saat ditanya kami, kenapa ada kekecewaan dan kepada siapa?

“Saya sangat prihatin utamanya pada para Petani Kopi di daerah kami sendiri, selain punya kecewa pada harga standar kopi yang kurang dihargai dalam arti turun, perhatian Pemerintah dalam hal ini sangat rendah” ungkapnya berkeluh kesah.

Fauzan mengatakan, bahwa Petani saat ini mengeluh karena tidak ada standar harga yang jelas, sehingga petani jadi kurang semangat, karena tidak ada bantuan dan perhatian apapun dari pihak Birokrasi Pemerintah, baik Daerah maupun Pusat.

“Hasil produksi kopi daerah kami sangat banyak dan bermutu, namun sayang pemasaran maupun pembeli kopi dengan harga layak hampir tidak ada” ungkapnya pula.

Fauzan melanjutkan

“Harapannya kami semua, baik Pengusaha, maupun petani kopi, menginginkan Pemerintah minimal membantu memfasilitasi, utamanya membuat gudang kopi daerah, adakan acara mengundang Buyer dllnya” harap Fauzan diutarakan.

“Selama ini produsen” termasuk saya (Fauzan) hanya sebatas menjadi penyedia saja yang dibeli oleh pihak ketiga, dan jauhnya malah dimanfaatkan Pengusaha asal Medan Sumatra, seolah Produk Kopi daerah kami menjadi kopi asal Medan” tandasnya bernada sedih.

Dalam hal ini kami sertakan, sebagai respon dan tanggapan Ir. Yudi SW (Pakar dan Pengamat Kopi) Jawa Barat, melalui hubungan seluler pada Tim Media tadi malam 26/12/20.

“Saya merasa bangga kepada Sdr. Fauzan ini, yang gigih berjuang membuat semakin besar nama kopi Indonesia di kancah Internasional” tuturnya mengawali.

“Harapan-harapan yang beliau sampaikan itu sangatlah wajar, dan realistis, namun alangkah lebih baik nya lagi, kalau semua elemen, terutama para penggiat kopi ini, untuk bersama bersatu berkumpul menyamakan visi dan misi” ungkap dia.

“Untuk langkah kedepannya secara kebersamaan, harapan untuk standarisasi harga itu memang lah cukup susah, namun dengan kebersamaan membangun perkopian ini” kilah YUDI SW.

“Marilah kita bisa berusaha untuk menstandarkan dan menaikan tingkat produksi di hulu ( petani) dalam hal ini, edukasi dan transpormasi ilmu pertanian kepada mereka harus tersampaikan” ajaknya memotivasi.

“Sehingga ketika harga rendah, petani akan terselamatkan oleh kapasitas produksi yang bisa meningkat” pungkas Ir Yudi SW.

Diakhir, sebagai Informasi tentang harga kopi saat ini, kisaran pasaran harga kopi Bandung Selatan dan Jawa Barat, kami dapati catatan informasinya, bahwa harga kopi Glondongan/Cery dibeli dari petani rata rata Rp. 8.000 – 10.000 per kilogram, (saat ini lagi turun).

Sementara dari Cery/kopi basah yang diolah hingga Greenbean, dari 9 kg kopi Cery menghasilkan 1 kg Grenbean, dengan HPPnya habiskan Rp 90.000 + ongkos kerja dan biaya sortir total 130.000 /Kg. Sementara kopi Roasbean Robusta kering Rp. 150.000/kg, Arabika honey Rp. 300.000 /kg. Arabika Natural Rp. 350.000/kg dan Arabika Wine Rp. 400.000/kg.

Reporter : Yudika & Tim Reporter Biro Jabar.

Leave a Reply