Home Pendidikan Kelas Terbang Tangsel kreative, Saat Radhar Panca Dahana Mendidik Komunitas di Tangsel

Kelas Terbang Tangsel kreative, Saat Radhar Panca Dahana Mendidik Komunitas di Tangsel

87
0

TANGSEL, (Beritasatoe.com) – Nama Radhar Panca Dahana (RPD) tentu tidak asing dikalangan budayawan hingga insan pers. Dia kerap menghiasi tajuk utama rubrik tentang aktivitas seni, kebudayaan, pendidikan dan bahkan dikenal sebagai salah satu pemimpin redaksi majalah mingguan ternama di negeri ini.

Sebagai seorang budayawan tersohor, RPD begitu biasa disingkat, di usianya yang menginjak 55 tahun memiliki aktivitas yang padat, tulisan-tulisannya masih beredar dalam bentuk rubrik dan buku-buku, lalu timnya aktif membuat konten video untuk kanal youtube nya beredar luas,juga  beberapa waktu terakhir menjadi bagian dari perkumpulan seniman yang menggugat alih fungsi Taman Ismail Marzuki menjadi kawasan komersial, serta beliau juga ditunjuk Komisi Pemilihan Umum menjadi panelis bidang budaya pada sesi debat nasional Pemilukada Kota Tangerang Selatan yang baru saja berlalu.
Dengan segudang kesibukan tersebut, RPD menyempatkan diri untuk menjadi pemateri pada program Kelas Terbang yang diinisiasi oleh Komunitas Tangsel Creative Foundation (TCF) pada Hari Kamis, 28 Januari 2021 kemarin di Rimbun Kampung Konservasi.

Acara yang dimulai sekitar pukul 16 itu selain menghadirkan RPD, juga membuat sesi khusus Performance Art dari Edi Bonetski berupa menggambar di atas kertas yang audiens bisa mengkoleksi dengan cara transfer ke Komunitas Semanggi Center yang hasilnya diperuntukan untuk korban bencana alam Mamuju di Sulawesi.

Dalam sesi penyampaian materinya, RPD mengawalinya dengan melempar pertanyaan ke forum (yang diundang terbatas) yang berisi anak muda dari beragam komunitas seperti musik, teater, seni rupa, literasi, aktivis, dan mahasiswa. Pertanyaannya adalah: “Apa yang menjadi keresahan teman-teman saat ini? Tentang apa saja”.

Kemudian tiap peserta menjawab keresahan masing-masing. Ada yang tentang kondisi bermasyarakat, ada yang tentang ketidakpercayaan kepada negara, namun mayoritas berkisah tentang keresahan terhadap keprofesian seni yang diampu. Lalu RPD memulai paparannya dengan menyampaikan gagasan tentang kebudayaan, apa itu kebudayaan.

Menurut RPD Kebudayaan adalah hal-hal paling mendasar dalam kehidupan, yang bersifat intrinstik dan akan mempengaruhi keseluruhan tatanan kehidupan personal, bermasyarakat, bernegara, formal, informal. RPD juga membagi tingkatan kebudayaan dalam bermasyarakat menjadi lima tingkat, dari yang paling dasar yaitu VALUE (bersifat individual) yang berkait dengan nilai seseorang, kemudian NORMA (ada kesepakatan yang sifatnya subjektif), lalu MORALITY (sesuatu yang menjadi konsesus di masyarakat) pada tahap ini masyarakat dianggap berbudaya ketika bermoral, kemudian tahap selanjutnya yang lebih tinggi adalah ETIKA.

Dan paling puncak adalah ESTETIKA (puncak dari pemahaman manusia atas kebudayaan). Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan oleh RPD, “Apakah anda-anda semua merasa ber-estetika? Pikir. Kita masyarakat Indonesia aja masih kehilangan Moral, Masih gak ada Moral. Bahkan kita masih bingung dengan value kita sendiri. Bagaimana ini?”
Sekitar 2 jam lebih RPD cukup intens membuka wawasan tentang kebudayaan, pendidikan, kaitannya dengan lingkungan dan bermasyarakat dalam nuansa yang santai.
“Kelas Terbang ini upaya dari komunitas untuk menghadirkan ruang belajar dari para mentor yang mumpuni tentang beragam isu yang mungkin tidak akan pernah bisa di bahas di kelas-kelas formal.” tutup presiden TCF Hilmi Fabeta. (Ruby/BS)

Leave a Reply