Home Bogor Raya Rumah Tak Layak Huni di Kabupaten Bogor Masih Menjamur, Ini Kata Aktivis

Rumah Tak Layak Huni di Kabupaten Bogor Masih Menjamur, Ini Kata Aktivis

138
0

Leuwisadeng, (BERITASATOE.COM) – Disebuah rumah gubug berukuran 5×5 tinggal sebuah keluarga miskin ditempati atas nama bapak Maman berumur 40 tahun dengan seorang istri yang bernama Mariyam berumur 37 tahun yang memiliki 3 orang anak. Anak yang pertama perempuan Mamah Maleasari berumur 19 tahun, yang anak kedua Meliawati berumur 17 tahun, dan yang ketiga Muhamad Rudiansyah berumur 10 tahun yang tinggal dengan serba kekurangan di pedalaman jauh dari pemukiman pada umumnya, yakni di Kampung Paku Pasir RT 008/004 Desa Sadeng Kecamatan Leuwisadeng Kabupaten Bogor.

Bapak Maman sehari hari hanya sebagai petugas linmas dan untuk mencari uang tambahan, beliau kerja kuli serabutan mencangkul pagi sampai siang yang berpenghasilan 50 ribu, itupun kalau ada yang nyuruh. Ibu Mariyam istri dari bapak maman untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia pun membantu suaminya kerja serabutan meramet yang dikasih upah 35 ribu.

Adapun untuk ke 3 anaknya ini sejak sekolah sudah mandiri dan bekerja, seperti anak yang pertama dia baru lulus tahun kemarin dan sekarang bekerja dikuli pembuatan cireng yang berpenghasilan 25 ribu, untuk yang anak kedua saat ini dia masih sekolah dan sambil bekerja diwarung sembako, karena sekolah nya belum masuk karena pandemi makanya dia sambil bekerja untuk menambah uang jajan dan meringankan beban orang tuanya, dan yang ketiga ini baru kelas 3 SD.

Keluarga inipun secara administrasi lengkap memiliki baik KK dan KTP, mapun BPJS PBI dan juga termasuk penerima kartu KKS PKH Mandiri.

Harapan dan keinginan keluarga inj berharap perhatian dari pemerintah untuk tempat tinggal yang layak, “Untuk tidurpun saya padesek – desek (berdesak-desakan) dengan ketiga anak – anak saya termasuk dengan yang gadis, karena ketidak punyaan dan keterbatasan ya segini adanya,” terang Maman kepada wartawan, Jum’at (28/05).

“Padahal sudah meminta pengajuan RTLH ke pemerintah setempat namun tidak diperhatikan,” ujar Maman lagi.

Sementara itu menurut aktivis Masyarakat Pejuang Bogor (MPB) Korwil Barat Muhamad Janwar mengatakan, Hal ini menjadi potret catatan buruk dalam penanganan dan pelayanan warga miskin di kabupaten Bogor terutama diwilayah bogor barat, termasuk di desa yang saat ini sedang saya injak. Terutama dalam bentuk tidak ada perhatiannya terhadap warga miskin yang sampai saat ini masih adanya warga tinggal dirumah gubug.

Aktivis MPB yang biasa disapa cawang ini pun menambahkan, bagaimana kabupaten bogor disebut kabupaten termaju, jika diwilayah yang sudah kota itupun masih ada warganya tinggal dirumah gubug dan reot, apalagi dipedalaman yang tinggal di pelosok bogor, tukasnya.(redaksi)

Leave a Reply