Bogor, (BS) - Pendidikan Indonesia kini berada di era transformasi besar: digitalisasi.
Dari ruang kelas hingga sistem administrasi, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia belajar. Kehadiran Artificial Intelligence (AI), platform pembelajaran daring, hingga kurikulum digital memberi harapan besar bagi kemajuan pendidikan nasional.
Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan penting:
“Apakah pendidikan digital masih mampu melahirkan manusia yang berkarakter dan berempati?”
Kemajuan Teknologi, Kemunduran Empati
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik revolusi digital di dunia pendidikan.
Guru dan siswa terpaksa beradaptasi dengan sistem daring, dan kini AI bahkan mampu membantu menyusun soal, menilai tugas, hingga menulis esai.
Sayangnya, di tengah kemudahan itu, pelan tapi pasti interaksi manusia mulai memudar.
Siswa semakin mahir mengoperasikan gawai, tetapi sering kali kehilangan kepekaan sosial dan empati.
“Kita sedang mencetak generasi digital, tapi berisiko kehilangan generasi yang manusiawi.”
AI Tak Bisa Menggantikan Guru
Sebagus apa pun teknologi, pendidikan sejati tetap memerlukan hati dan keteladanan.
Guru bukan sekadar pengajar ilmu, melainkan penuntun nilai dan pembentuk karakter.
Berita Populer
Daerah
Install App
Berita Satoe
Untuk pengalaman membaca berita yang lebih cepat dan nyaman, Install Aplikasi kami di Android Anda

