Bogor, (BS) — Sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor menghadapi persoalan kelangkaan guru Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kondisi ini dipicu oleh banyaknya guru yang memasuki masa pensiun, sementara pengangkatan guru baru dinilai belum sebanding dengan kebutuhan di lapangan.
Salah satu sekolah yang terdampak adalah SDN Sindangsari, Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Kepala SDN Sindangsari, Budiono, S.Pd., mengatakan sekolah yang dipimpinnya akan kehilangan tiga guru ASN dalam waktu dekat karena memasuki usia pensiun.
“Beberapa bulan ke depan ada tiga guru ASN yang purna tugas, termasuk saya sendiri yang akan pensiun pada 2027,” ujar Budiono saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (29/1/2026).
Menurut Budiono, kekurangan tenaga pendidik ASN berpotensi mengganggu proses belajar mengajar apabila tidak segera diantisipasi. Ia berharap pemerintah daerah hingga pemerintah pusat dapat mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Kami berharap ada solusi dari instansi terkait, baik Pemkab Bogor, Pemprov Jawa Barat, maupun pemerintah pusat. Paling tidak, sekolah diberi ruang dan kewenangan untuk merekrut guru honorer sesuai kebutuhan,” katanya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah SDN dan SMPN lainnya di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor pada Tahun Pelajaran 2026/2027. Kelangkaan guru ASN dinilai terjadi akibat ketidakseimbangan antara jumlah guru yang pensiun dengan pengangkatan guru ASN maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Situasi tersebut juga dirasakan SMP Negeri 1 Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Sejumlah guru ASN di sekolah tersebut memasuki masa purna tugas dalam waktu berdekatan.
“Kami juga mengalami kekurangan guru ASN karena banyak yang memasuki usia pensiun,” ujar salah satu sumber di lingkungan sekolah yang enggan disebutkan identitasnya.

