OPINI PENDIDIKAN, (BS) – Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan atau upacara rutin di sekolah, tetapi seharusnya menjadi momen refleksi nasional untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, nilai-nilai Pancasila kian tergerus oleh budaya instan, individualistik, dan hedonistik yang banyak memengaruhi generasi muda. Padahal, Pancasila bukan hanya ideologi politik, tetapi falsafah hidup yang menuntun arah moral bangsa.
Nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan keadilan sosial kini mulai jarang dijumpai di keseharian pelajar.
Pelajar dan Tantangan Zaman
Generasi muda hari ini hidup di era digital yang serba cepat dan bebas informasi. Namun di balik kemudahan akses pengetahuan, muncul tantangan besar: krisis karakter dan lunturnya semangat kebangsaan.
Banyak pelajar lebih hafal nama influencer dibanding tokoh nasional, lebih bangga dengan budaya luar daripada kearifan lokal, dan lebih sibuk membangun citra diri di media sosial ketimbang membangun kepedulian sosial.
Inilah ironi pendidikan kita: Pancasila diajarkan, tetapi belum dihidupkan.
Nilai-nilainya berhenti di buku pelajaran, belum tumbuh menjadi karakter dan perilaku nyata.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila seharusnya menjadi cermin bagi dunia pendidikan — sejauh mana sekolah, guru, dan pelajar benar-benar memaknai Pancasila sebagai pedoman hidup, bukan sekadar simbol di dinding kelas.
Menghidupkan Nilai, Bukan Menghafal Teks
Berita Populer
Daerah
Install App
Berita Satoe
Untuk pengalaman membaca berita yang lebih cepat dan nyaman, Install Aplikasi kami di Android Anda

