Jakarta, (BS) – Janji Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta akan kembali normal dalam waktu tujuh hari terbukti tidak terealisasi.
Pantauan di sejumlah SPBU swasta, seperti Shell Indonesia dan BP-AKR, menunjukkan kelangkaan bensin masih terjadi hingga Jumat (26/9/2025), tepat sepekan setelah janji Bahlil disampaikan pada 19 September lalu.
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai janji pemerintah dan Pertamina tidak terbukti.
“Bahlil Lahadalia baru tahu dia, sekarang kena dibohongi PT Pertamina,” ujar Uchok dalam keterangannya, Jumat (26/9/2025).
Uchok menambahkan, bukan hanya Menteri ESDM, tetapi juga Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, turut gagal memenuhi janjinya. Sebelumnya, Simon memastikan kuota impor BBM untuk SPBU swasta dapat terpenuhi dalam waktu seminggu.
“Janji tinggal janji. Pertamina tidak bisa memenuhi distribusi tambahan BBM yang rencananya diimpor melalui Pertamina untuk SPBU swasta,” tegas Uchok.
Menurut CBA, kegagalan ini menunjukkan lemahnya koordinasi antara pemerintah dan Pertamina dalam memastikan ketersediaan BBM untuk masyarakat. Uchok pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil langkah tegas.
“Kalau perlu pecat saja Simon karena kerjanya lelet, tidak sesuai janji, dan kinerjanya buruk,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pertamina belum memberikan keterangan resmi terkait keterlambatan distribusi BBM di SPBU swasta. (Redaksi)

