BOGOR,  (BS) - Tingginya angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bogor, bukan sebuah persoalan baru disektor  kesehatan. Namun sebelum jauh lebih meningkat jumlah yang terpapar, perlu ditingkatkan penanganan yang serius. 

"Hingga saat ini belum ditemukan obat khusus untuk HIV/AIDS,  Kami Yayasan Lekas  hanya  menginisiasi penanganan kasus ini secara mandiri dengan anggaran sendiri bahkan dengan teknis  secara Otodidak." hal ini  disampaikan Muksin Zaenal Abidin,Ketua Yayasan Lekas Rabu 19/03/2025.

Muksin Mengatakan,  sangat prihatin dengan kondisi angka positif HIV/AIDS di kabupaten Bogor, masih tertinggi  kedua di Jawa Barat. Mayoritas terpapar kalangan muda. Bahkan ada yang masih balita positif HIV /AIDS, kondisi  sangat mengkhawatirkan keberlangsungan generasi di Kabupaten Bogor kedepannya.
 
"Dari catatan kami  (Lekas), data terbaru 2025,   saat ini jumlah angka yang terpapar ribuan,mereka tergolong  usia produktif, usia 15 - 49 tahun,  terbanyak laki laki 70% dan perempuan di angka 30%, ini sangat memerlukan perhatian yang serius dari pemerintah , dalam penanganannya,"  ujar Muksin.

Menurutnya, Yayasan Lekas terus menginisiasi penanggulangan nya, sebagai langkah kongkrit,  menekan, meminimalisir penularan nya. Di awal tahun 2025 telah melakukan sosialisasi dan pemeriksaan tentang HIV/AIDS, bekerja sama dengan petugas kesehatan dengan sasaran
 ibu hamil.

 "Ini Kami menginisiasi sosialisasikan dengan pemeriksaan, sasaran pertama Ibu hamil, karena data Lekas menunjukkan penularan HIV/AIDS sudah menjalar hingga ke pelosok Kampung,"  ungkapnya.

Kepada pemerintah Kabupaten Bogor, dari kepemimpinan Bupati baru, Muksin berharap ada nya peningkatan kerjasama dalam penanggulangan kasus HIV/AIDS. Sebab kata Dia Penularan HIV/AIDS, bisa menjadi bom waktu pada satu saat.

"Karena  saat ini, penyuluhan, sosialisasi, dan penanggulangan penyakit itu tidak begitu signifikan dari pemerintah, Kami berharap adanya peningkatan kerjasama antara pemerintah dengan Kami  Masyarakat yang peduli bahaya laten HIV/AIDS," tuturnya.

Berdasarkan dari  teori WHO, dijelaskan bahwa, lanjut Muksin,  jika ada satu orang terpapar positif HIV, "kemungkinan besar dibelakangnya  akan terpapar sebanyak 100 orang, karena itu adalah mata rantai," terangnya.

Selain itu Muksin juga memaparkan, jauh sebelum nya telah menginisiasi juga, sebagai langkah upaya menekan penularan HIV/AIDS. Sejak tahun 2011 melakukan sosialisasi tentang bahaya penularan penyakit tersebut. kepada para pekerja sex, populasi kunci, ssl , bahkan waria.