Opini Pendidikan:
Oleh: Santo/Redaktur beritasatoe.com
BERITASATOE.COM - Transformasi digital telah menjadi mantra baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Hampir setiap forum resmi menempatkan digitalisasi sekolah sebagai indikator kemajuan. Perangkat dibagikan, platform diluncurkan, dan berbagai aplikasi pendidikan diperkenalkan. Di atas kertas, arah ini tampak menjanjikan.
Namun pertanyaan mendasar yang perlu diajukan secara jujur adalah: apakah digitalisasi yang berlangsung saat ini benar-benar telah mengubah kualitas pembelajaran, atau baru berhenti pada level simbolik dan administratif?
Di banyak satuan pendidikan, termasuk di Kabupaten Bogor, adopsi teknologi memang meningkat signifikan. Smart classroom mulai diperkenalkan, penggunaan Learning Management System (LMS) makin familiar, dan guru didorong memanfaatkan berbagai aplikasi pembelajaran. Ini tentu merupakan langkah maju yang patut diapresiasi.
Akan tetapi, realitas lapangan menunjukkan bahwa transformasi digital belum sepenuhnya menyentuh jantung pedagogi. Tidak sedikit sekolah yang sudah memiliki perangkat, tetapi pola pembelajarannya masih konvensional. Teknologi sering kali hanya menggantikan papan tulis menjadi layar presentasi—bukan mengubah cara siswa berpikir dan belajar.
Di sinilah letak persoalan utama: digitalisasi terlalu sering dipahami sebagai proyek pengadaan, bukan proses transformasi pembelajaran.
Pengalaman di berbagai sekolah menunjukkan bahwa faktor penentu keberhasilan bukanlah kecanggihan perangkat, melainkan kesiapan guru dalam mengintegrasikan teknologi secara pedagogis. Guru yang memiliki literasi digital kuat mampu menciptakan pembelajaran interaktif bahkan dengan fasilitas terbatas. Sebaliknya, tanpa penguatan kompetensi, perangkat mahal pun berisiko menjadi ornamen kelas.
Kondisi ini juga terlihat di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor. Beberapa sekolah pinggiran justru menunjukkan kreativitas tinggi dalam memanfaatkan teknologi sederhana untuk pembelajaran kontekstual. Sementara itu, ada sekolah yang relatif lengkap fasilitasnya tetapi pemanfaatannya belum maksimal. Fakta ini menegaskan satu hal penting: inti transformasi pendidikan tetap berada pada kualitas SDM pendidikan.

