Oleh : Nur Azhar Siddik. 
Profesi : Mahasiswa Komunikasi & Penyiaran Islam, Universitas Ibn Khaldun Bogor. 

BERITASATOE.COM - Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama bagi generasi muda. Gadget dan internet kini bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas belajar, berkomunikasi, hingga mencari hiburan hampir seluruhnya dilakukan melalui perangkat digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa generasi muda hidup di tengah arus digital yang deras dan sulit dihindari.

Indonesia termasuk negara dengan tingkat penggunaan teknologi digital yang tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 33,44% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gadget dalam aktivitas sehari-hari. Angka tersebut terdiri atas 25,5% anak usia 0–4 tahun dan 52,76% anak usia 5–6 tahun. Paparan teknologi sejak usia dini ini menunjukkan bahwa generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital bahkan sebelum memiliki kesiapan emosional dan psikologis yang matang.

Pada usia sekolah, intensitas penggunaan gadget semakin meningkat. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa lebih dari 71,3% anak usia sekolah telah memiliki gadget pribadi dan menggunakannya dalam durasi yang relatif lama setiap hari. Sebanyak 79% anak juga diperbolehkan menggunakan gadget tidak hanya untuk belajar, tetapi juga untuk hiburan dan aktivitas lain di media sosial. Kondisi ini menuntut perhatian serius karena penggunaan berlebihan berpotensi mempengaruhi konsentrasi belajar, kesehatan mental, dan pola interaksi sosial.

Media sosial kemudian menjadi ruang utama bagi generasi muda. Platform seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan X digunakan setiap hari untuk berbagi cerita, mengekspresikan pendapat, dan membangun relasi sosial. Laporan Digital 2026: Indonesia menunjukkan bahwa generasi Z merupakan pengguna media sosial paling dominan dengan durasi penggunaan rata-rata lebih dari tiga jam per hari. Media sosial tidak lagi sekadar ruang komunikasi, tetapi telah menjadi arena pembentukan identitas.

Namun, ruang digital tidak sepenuhnya netral. Media sosial bekerja dengan sistem algoritma yang menjadikan perhatian sebagai komoditas. Akibatnya, nilai diri perlahan direduksi menjadi angka-angka digital seperti likes, views, dan jumlah pengikut. Keberhasilan seringkali diukur dari respons publik, bukan dari proses atau kualitas diri. Ketika unggahan sepi response, muncul perasaan gagal yang bersifat personal, meskipun hal tersebut seringkali dipengaruhi oleh mekanisme algoritma.

Fenomena ini mendorong budaya perbandingan sosial. Generasi muda setiap hari terpapar pada potongan kehidupan orang lain yang tampak ideal. Studi dalam Journal of Adolescence menunjukkan bahwa lebih dari 30% remaja mengalami kecemasan akibat perbandingan sosial di media digital. Standar yang dibangun sering kali tidak realistis, tetapi terus dijadikan tolok ukur keberhasilan diri.

Pencitraan diri menjadi konsekuensi dari tekanan tersebut. Remaja terdorong menampilkan versi terbaik, bahkan tidak sepenuhnya jujur, dari dirinya. Filter dan pengeditan menciptakan citra kehidupan yang tampak sempurna. Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan jarak antara diri yang ditampilkan dan diri yang sebenarnya, sehingga identitas menjadi rapuh dan bergantung pada pengakuan eksternal.

Dampak media sosial juga terasa pada pola interaksi sosial. Perkembangan teknologi digital mengubah cara generasi muda berkomunikasi. Pesan dapat dikirim dengan cepat tanpa batasan jarak dan waktu, tetapi komunikasi menjadi singkat dan kurang personal. 

Halaman:
S
N
Editor: San
Penulis: Nur Azhar Siddik