Bogor, (BS) - Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) Kabupaten Bogor Radien mengatakan Pemkab segera mengambil langkah konkret dalam hal kebijakan untuk melindungi, merestorasi dan mengintegrasikan warisan sejarah Jasinga dalam Rencana Pembangunan Daerah.

"Tanpa langkah nyata, Jasinga sudah kehilangan identitasnya, dan warisan sejarah yang berharga ini hanya akan menjadi kenangan yang pudar ditelan zaman," kata Dindin sapaan akrabnya, Senin, (10/3/2025).

Menurut dia Jasinga bukan sekedar wilayah administratif di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat tetapi juga kawasan yang menyimpan sejarah panjang sejak masa kolonial hingga awal terbentuknya Pemerintah Daerah.

"Di sini lah kisah perjalanan kantor Bupati Pertama (kantor darurat) Kabupaten Bogor berdiri di bawah kepemimpinan Ipik Gandamana
menjadi saksi perjalanan roda pemerintahan daerah. Namun, Pendopo Eks Kewadanaannya saja 
luluh lantah karena pembiaran," jelasnya secara jengkel.

Dindin menambahkan, jauh sebelum itu, jika mengutip dari karya Jonathan Rigg yakni 
Dictionary of the Sunda Language of Java (kamus Sunda-Inggris) 
ada ucapan terimakasih dari beliau, kepada Demang Jasinga Raden Nata Wireja, yang menjadi narasumber sekaligus teman diskusinya pada 1854 dan kata pengantar yang selesai di tulis di Jasinga pada 5 Agustus 1862.

"Selain itu, ada Bendungan Sendung yang telah mengairi ratusan hektare sawah sejak dibangun pada tahun 1938 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, wilayah ini juga menyimpan ribuan nisan-nisan kuno peninggalan jaman kerajaan yang tersebar luas, menguatkan bukti bahwa Jasinga memiliki akar sejarah yang dalam," tambahnya.

Namun, kata Dindin kekayaan sejarah ini semakin terancam punah. Minimnya kesadaran dan kepedulian, baik dari pemerintah maupun masyarakat, membuat banyak peninggalan berharga terabaikan.

"Hal tersebut tidak adanya perhatian serius terhadap pelestarian situs sejarah, yang menyebabkan degradasi nilai budaya yang seharusnya bisa menjadi daya tarik wisata dan kebanggaan lokal," katanya.

Ironisnya, kata dia lagi, disaat berbagai daerah berlomba-lomba mengembangkan wisata berbasis sejarah dan budaya, Jasinga masih terjebak dalam ketidakjelasan arah pengelolaan aset sejarahnya.