Semarang, (BS) — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja melalui pendekatan literasi digital dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (KA). Inovasi ini dinilai relevan dengan karakter generasi muda yang hidup di ruang digital dan rentan terhadap cyberbullying maupun paparan konten berbahaya.

Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen melalui Direktorat SMP menyelenggarakan program Sobat SMP Bersinar (Bersih Narkoba) yang melibatkan 60 satuan pendidikan jenjang SMP dengan dukungan Badan Narkotika Nasional (BNN), Dinas Kesehatan, dan UNICEF.

Direktur SMP Maulani Mega Hapsari menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bebas narkoba.
“Diperlukan kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Guru membangun karakter, anak-anak menjaga diri dan memilih pertemanan yang positif,” ujarnya.

Maulani juga mengajak peserta didik untuk mengisi masa muda dengan aktivitas produktif seperti belajar, mengasah bakat, olahraga, seni, dan kegiatan kebangsaan.
“Kami berharap peserta didik menjadi agen perubahan — pelopor di sekolah dan masyarakat untuk menularkan semangat hidup sehat dan menjauhi narkoba,” tambahnya.

Pada kegiatan Sobat SMP Bersinar di Semarang, Kamis (20/11), Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Transformasi Digital dan KA, Muhammad Muchlas Rowi, menekankan pentingnya membangun ketangguhan remaja.
“Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga kesadaran dan komitmen yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Muchlas mengutip data BNN 2024 yang menunjukkan peningkatan penyalahgunaan narkoba pada usia 15–24 tahun dari 1,44% pada 2021 menjadi 1,52% pada 2023, atau setara 312 ribu remaja. Faktor pendorongnya antara lain rasa penasaran, tekanan pergaulan, dan rendahnya pemahaman risiko.

Ia menilai bahwa tantangan pencegahan kini juga terjadi di ruang digital. Paparan konten berbahaya, perundungan daring, serta tekanan sosial di media sosial dapat memicu perilaku berisiko, termasuk penggunaan narkoba.
“Literasi digital bukan sekadar mengoperasikan gawai, tetapi kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, menolak hoaks, dan berperilaku aman di internet,” ungkapnya.

Muchlas juga menyampaikan bahwa kecerdasan artifisial mulai dimanfaatkan sebagai alat pendukung, seperti memantau kata kunci terkait narkoba di ruang digital, mendeteksi pola cyberbullying, hingga menyediakan layanan konseling awal berbasis chatbot.

Sementara itu, Pembina Tim Kerja Peserta Didik, Harnowo, menjelaskan bahwa kegiatan Sobat SMP Bersinar dirancang interaktif, melibatkan guru pendamping, dinas pendidikan, dan ratusan siswa SMP. Materi yang diberikan meliputi: