Bandung, (BS) -  Program Pendidikan Karakter Gapura Panca Waluya di Jawa Barat tidak berhenti pada seremoni penyerahan siswa kepada orang tua. Di tahap berikutnya, para lulusan tetap dipantau dan didampingi melalui komunitas Kesatria Panca Waluya, sebuah wadah yang memastikan proses perubahan karakter terus berlanjut dan berdampak nyata bagi kehidupan mereka.

Koordinator Kesatria Panca Waluya, Gusti Aju Dewi, menjelaskan bahwa komunitas ini menjadi bentuk keberlanjutan dari visi-misi Gubernur Jawa Barat dalam membangun manusia unggul melalui pendidikan karakter.

“Kesatria Panca Waluya ini menurunkan visi-misi Pak Gubernur. Saya sangat mengapresiasi atensi luar biasa terhadap pendidikan karakter. Program ini ingin mengangkat anak-anak dari keluarga kurang mampu dan kaum marginal agar bisa naik kelas,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Aktivasi Kesatria Panca Waluya di Hotel Belviu Kota Bandung, Kamis (23/10/2025).

Menurutnya, kenaikan kelas bukan hanya perubahan perilaku, tetapi juga peningkatan status sosial dan ekonomi. Karena itu, kehadiran Kesatria Panca Waluya menjadi wadah bagi para alumni barak untuk tetap terhubung dan mengembangkan potensi mereka.

“Kami akan melakukan 360 derajat profiling. Bukan cuma karakter, tapi juga kondisi sosial dan ekonomi. Dari situ, kita tahu siapa yang butuh pendampingan ekonomi, siapa yang perlu dukungan sosial. Jadi, langkah intervensinya bisa tepat,” jelasnya.

Profiling ini akan menjadi dasar pengukuran keberhasilan program dalam jangka panjang. Tim yang dibentuk oleh Gubernur akan bekerja hingga 2029, dengan target setiap peserta mengalami perubahan terukur dalam hidupnya.

“Misalnya, yang hampir putus sekolah sekarang bisa lanjut kuliah atau berwirausaha. Prinsipnya bukan memberi ikan, tapi memberi kail supaya mereka bisa mandiri, lalu membantu orang lain,” tegasnya.

Gusti Aju juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas unsur — baik sipil, militer, maupun pemerintah daerah. Ia menilai, sinergi bersama Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dinas Sosial, dan DP3AKB menjadi kunci untuk memastikan para alumni mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan mereka.

“Kita di sini bukan untuk bersaing, tapi saling melengkapi. We are here to complete, not to compete. Dengan sinergi yang kaya warna ini, kita bergerak bersama untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya.