BANDUNG – Akademisi Rhenald Kasali menyoroti fenomena menurunnya kemampuan dasar siswa yang dinilai berkaitan dengan ketergantungan berlebihan terhadap perangkat digital.
Menurutnya, sejumlah negara mulai kembali menekankan pentingnya kebiasaan menulis tangan dan penggunaan buku cetak dalam proses pembelajaran.
Ia mencontohkan praktik di Inggris, di mana siswa sekolah dasar kini didorong untuk menulis tangan setiap hari sebagai bagian dari latihan refleksi dan penguatan kemampuan berpikir.
“Di Inggris, anak-anak SD diminta menulis tangan setiap hari untuk menuangkan refleksi mereka. Dari penjelasan para neuroscientist, anak yang menulis tangan memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan yang sepenuhnya bergantung pada perangkat digital,” ujar Rhenald.
Ia menambahkan, tren serupa juga mulai terlihat di negara-negara Skandinavia yang kembali menguatkan penggunaan buku cetak dalam pembelajaran.
Fenomena ini, kata dia, dilatarbelakangi kekhawatiran menurunnya daya ingat generasi muda akibat peralihan cepat ke teknologi digital.
Rhenald juga membagikan pengalaman saat melakukan evaluasi dalam sebuah pelatihan. Ketika diminta mengisi formulir secara tertulis, sebagian besar peserta justru meminta versi digital.
“Mereka mengaku sudah tidak terbiasa menulis tangan. Ini menunjukkan kemampuan dasar mulai tergantikan oleh kebiasaan menggunakan gawai,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan keterampilan dasar siswa.

