Bogor, (BS) - Ya, sosok Jonathan Rigg yang tak lain tuan tanah di wilayah Djasinga pada abad 18 silam, hingga kini namanya selalu familiar di kalangan pencinta sejarah. Pria kelahiran Inggris itu, banyak menulis dan mengisi jurnal-jurnal ilmiah.
Tulisan Atep Kurnia yang dimuat media online bandungbergerak.id berjudul Biografi Jonathan Rigg 1809 -1871 #5: Sejumlah Tulisan di Jurnal Ilmiah, tertulis kisah bagaimana dia menemukan Prasasti Pasir Jambu atau Prasasti Koleangkak.
Di situ disebutkan, satu tulisan Jonathan Rigg, yaitu “Batu Tulis on Jambu” (TBG, Deel III, 1853). Tulisan ini dilatari pembacaan Jonathan atas TBG edisi Oktober 1853, yang antara lain berisi tulisan R. Friederich mengenai interpretasi Prasasti Batutulis di Bogor. Tulisan Friederich mengingatkan Jonathan terhadap prasasti yang dilihatnya 15 atau 16 tahun yang lalu di Pasir Angin, ujung selatan Gunung Saribu, di dekat perbatasan Perkebunan Bolang dan Jambu.
Kemudian, setelah mendapatkan batuan Ten Cate, menantu Motman, sang pemilik Perkebunan Bolang dan Jambu, Jonathan mengunjungi lokasi prasasti di Pasir Angin pada Sabtu, 22 Oktober 1853. Mula-mula ia hendak mengajak mandor Cikasungka, tetapi sedang tidak ada. Namun, ia bertemu Agus Lanchong yang semula mandor di situ, dan tidak mengetahui keberadaan batu prasasti. Di Pabuaran, Jonathan bertemu dengan Pa Beran dan Sariun, yang mau membawanya ke lokasi prasasti, meski keduanya sudah lama tidak ke situ. Demikianlah mereka menemukan batu tulis itu terletak di jalan pendek ke arah selatan jalan utama dari Jasinga ke Bogor.
Kini Prasasti Pasir Jambu atau Prasasti Koleangkak berlokasi di Kampung Pasir Gintung, Desa Batutulis, Kecamatan Nanggung.
Prasasti ini diresmikan 31 Maret 1990 oleh Direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Drs. Uka Tjandrasasmita dan telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Nasional dengan SK 204/M/2016. (Dr/Red)

