BEKASI, BERITASATOE.COM — Di tengah hiruk pikuk pembangunan dan modernisasi wilayah Bekasi, kisah pilu seorang warga Desa Mangunjaya mencuat ke permukaan. Hendrianto atau yang akrab disapa Suler, pria penyandang disabilitas netra, telah hidup dalam kegelapan selama lima tahun terakhir—tanpa satupun sentuhan bantuan dari pemerintah desa maupun instansi terkait.

Ditemui tim BeritaSatoe.com di kawasan CBL, Minggu (27/7/2025), Suler mengisahkan awal mula kebutaannya yang terjadi pada masa pandemi Covid-19. Kondisi fisiknya yang lemah dan kesulitan ekonomi membuatnya tidak bisa mengakses pengobatan yang layak. Perlahan tapi pasti, penglihatannya memudar hingga akhirnya gelap total.

“Awalnya cuma masalah makanan yang gak sehat, terus saya jadi suka minta-minta. Akhirnya ya begini keadaannya sekarang,” ujarnya lirih.

Yang lebih menyayat hati, selama lima tahun hidup dalam keterbatasan, Suler belum pernah menerima bantuan sosial maupun perhatian khusus dari pemerintah Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan.

“Harapan saya cuma satu, dibantu aja untuk bantuan sosial. Dan saya juga pengen hidupin komunitas tunanetra di Desa Mangunjaya. Biar kami bisa berkembang, produktif, dan punya penghasilan sendiri,” ungkapnya.

Suler tidak hanya berharap untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi sesama penyandang disabilitas di lingkungan sekitarnya. Ia ingin mendirikan komunitas tunanetra agar bisa saling menguatkan dan bersama-sama membangun kehidupan yang lebih layak.

“Kami semua yang senasib bisa saling bantu, sama-sama jalan. Karena kami juga pengen hidup layak,” tuturnya penuh harap.

Kisah Suler menjadi pengingat bahwa di tengah geliat kota, masih banyak warga yang terabaikan. Ia adalah satu dari sekian suara yang nyaris tak terdengar, namun tak pernah kehilangan semangat untuk hidup mandiri dan bermartabat.

Masyarakat berharap kisah ini dapat membuka mata para pemangku kebijakan, agar ke depan tidak ada lagi warga disabilitas yang terpinggirkan di negeri ini. (Syaugy Achmad)

N
Penulis: Naufal