Bogor, (BS) – Pemerintah telah mengusung Kurikulum Merdeka sebagai pendekatan baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Dengan slogan “merdeka belajar”, kurikulum ini diharapkan dapat mendorong kreativitas, kemandirian, dan penguatan karakter peserta didik.
Namun, di balik semangat pembaruan, pelajar justru dihadapkan pada beragam tantangan nyata dalam implementasinya.
“Saya merasa pembelajaran jadi lebih berat, karena harus mencari tahu sendiri materi, sedangkan guru hanya memberikan arahan umum,” ujar Aulia (16), siswi kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bogor.
Belajar Lebih Bebas, Tapi Juga Lebih Bingung
Salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka adalah fleksibilitas belajar, baik dalam memilih mata pelajaran maupun metode pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Namun kenyataannya, masih banyak pelajar yang kebingungan menentukan minat dan strategi belajar yang tepat.
Selain itu, tidak semua sekolah siap secara fasilitas maupun SDM pengajar untuk menjalankan pendekatan ini secara maksimal. Di beberapa daerah, keterbatasan akses digital dan literasi teknologi juga menjadi kendala besar.
Tuntutan Kemandirian yang Tidak Seimbang
Kurikulum Merdeka menuntut siswa untuk aktif, mandiri, dan reflektif dalam belajar. Namun, banyak pelajar masih terbiasa dengan sistem lama yang lebih instruktif.
“Kami jadi harus belajar sendiri, tapi tanpa panduan yang jelas. Sering kali saya dan teman-teman hanya sekadar menyelesaikan tugas tanpa benar-benar paham,” keluh Rizky, siswa SMP di Bogor Timur.

