BOGOR, (BS) – Sejak diperkenalkan secara bertahap pada 2022, Kurikulum Merdeka mulai banyak diterapkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Kurikulum ini membawa semangat pembelajaran yang fleksibel, berpusat pada siswa, dan menekankan pada pembentukan karakter lewat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Untuk mengetahui bagaimana Kurikulum Merdeka berjalan di lapangan, tim kami mewawancarai seorang guru dan seorang siswa dari SMP Negeri 4 Bogor, salah satu sekolah yang sudah menerapkannya sejak awal.
Wawancara Bersama Ibu Evi Mardiani, S.Pd – Guru IPS
Tanya (T): Bagaimana pengalaman Ibu mengajar dengan Kurikulum Merdeka?
Jawab (J): Jauh lebih menyenangkan dan menantang. Saya bisa menyesuaikan materi dengan konteks lokal dan minat siswa. Jadi, kelas lebih hidup dan tidak monoton.
T: Apa perubahan yang paling terasa dibanding Kurikulum 2013?
J: Di Kurikulum Merdeka, saya lebih bebas menentukan metode mengajar. Evaluasinya juga tidak sekadar angka, tapi deskriptif. Fokusnya pada proses, bukan hanya hasil.
T: Apa tantangan yang Ibu hadapi?
J: Menyusun proyek P5 dan modul ajar butuh waktu dan kreativitas. Tapi platform Merdeka Mengajar sangat membantu.
Wawancara Bersama Alif Rahman (13 tahun) – Siswa Kelas VIII
Tanya (T): Alif, kamu merasakan perbedaan nggak setelah sekolah pakai Kurikulum Merdeka?
Jawab (J): Banget, Kak. Pelajaran sekarang lebih banyak diskusi dan praktek. Kita juga bikin proyek bareng, kayak kemarin tema “Gaya Hidup Berkelanjutan” – seru banget!
T: Apa kamu merasa lebih bebas dalam belajar?
J: Iya. Kita bisa pilih topik yang kita suka, apalagi waktu proyek. Aku jadi lebih semangat datang ke sekolah karena ngerasa belajar tuh nggak cuma duduk diam.
T: Tantangannya apa buat kamu?
J: Kadang bingung juga pas disuruh refleksi diri atau kerja kelompok, karena belum biasa. Tapi sekarang jadi terbiasa.
Dari wawancara di atas, terlihat bahwa guru merasakan ruang berkarya yang lebih luas, sementara siswa merasa lebih terlibat dan aktif dalam belajar. Meskipun masih ada tantangan, Kurikulum Merdeka membuka peluang perubahan budaya belajar ke arah yang lebih manusiawi dan bermakna. (Red)

