Bogor (BS) — Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Nurodin yang akrab disapa Jaro Peloy, mengingatkan masyarakat di wilayah Bogor Barat untuk meningkatkan kewaspadaan memasuki musim penghujan. Ia menilai kawasan tersebut memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor saat curah hujan meningkat.
Menurut Jaro Peloy, pengalaman bencana besar yang pernah terjadi pada tahun 2020 seharusnya menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar lebih siap menghadapi potensi risiko serupa di masa mendatang.
“Bogor Barat punya sejarah bencana yang tidak kecil. Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi kesadaran bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kesiapan menghadapi bencana tidak hanya soal penanganan saat kejadian, tetapi juga menyangkut kesiapan sejak dini. Salah satu langkah strategis yang didorongnya adalah penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) di setiap wilayah rawan.
“Kesiapan aparatur desa dan warga sangat menentukan. Saat kondisi darurat, respon cepat dan terkoordinasi bisa meminimalisir dampak dan korban,” kata Jaro Peloy.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa mitigasi bencana harus dilakukan secara berkelanjutan dan berpijak pada prinsip menjaga keseimbangan alam. Pelestarian hutan dan penataan ruang yang bijak dinilai menjadi kunci utama dalam menekan potensi bencana jangka panjang.
Dalam kesempatan itu, Jaro Peloy juga mengangkat kearifan lokal Sunda sebagai pedoman penataan lingkungan yang relevan hingga kini.
“Dalam filosofi Sunda dikenal konsep gunung kaian, lamping awian, lebak sawahan, legok balongan, datar imahan. Ini adalah tata ruang berbasis alam yang jika dijalankan dengan konsisten dapat mencegah bencana,” jelasnya.
Dengan sinergi antara kesiapsiagaan masyarakat, penguatan desa tangguh bencana, serta pelestarian lingkungan, Jaro Peloy berharap risiko bencana di Bogor Barat dapat ditekan dan keselamatan warga lebih terjamin.

