Jakarta, (BS) — Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan bahwa reformasi Merdeka Belajar yang tengah dilaksanakan pemerintah Indonesia merupakan salah satu upaya transformasi pendidikan paling komprehensif di kawasan Asia Tenggara.

Dalam laporan bertajuk “Transforming Education in Indonesia: Examining the Landscape of Current Reforms” yang dirilis Januari 2024, OECD menyoroti bahwa kebijakan Merdeka Belajar berfokus pada pembelajaran mendalam, penguatan karakter, dan pengembangan kompetensi abad ke-21, sekaligus mendorong peran aktif guru dan sekolah sebagai agen perubahan.

“Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat dalam mentransformasi sistem pendidikan melalui kurikulum yang lebih emansipatif, asesmen yang mendukung proses belajar, serta pemberdayaan guru dan teknologi pembelajaran,” tulis laporan tersebut.

Fokus Kurikulum Baru: Dari Hafalan ke Kompetensi Esensial

Kurikulum Merdeka dirancang untuk mengurangi beban materi sekaligus meningkatkan kedalaman pembelajaran. Pelajaran lebih difokuskan pada literasi, numerasi, dan kompetensi lintas bidang seperti kreativitas, pemikiran kritis, serta literasi digital dan finansial.

Perubahan besar juga terjadi dalam sistem evaluasi. Ujian akhir nasional digantikan dengan asesmen formatif yang mendorong pemantauan proses belajar secara berkelanjutan. Evaluasi ini dinilai lebih adil dan mendukung perkembangan karakter serta kompetensi siswa.

Pemberdayaan Guru dan Digitalisasi Sekolah

OECD menilai kehadiran Platform Merdeka Mengajar sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas pendidik. Platform ini menyediakan pelatihan daring, komunitas belajar, serta ribuan perangkat ajar yang dapat diakses oleh guru di seluruh Indonesia.

Sekolah juga diberikan otonomi lebih besar untuk menyesuaikan kurikulum sesuai kebutuhan dan konteks lokal, yang menjadikan setiap satuan pendidikan sebagai pusat inovasi dan pembelajaran berbasis komunitas.