BOGOR, (BS), - Di tengah derasnya arus teknologi digital dan dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, dunia pendidikan Indonesia kini menghadapi tantangan serius: bagaimana membentuk karakter siswa di era serba instan ini?
Fenomena siswa yang hidup dalam dua dunia realitas fisik dan dunia maya, membawa dampak besar terhadap perilaku, etika, dan nilai moral generasi muda. Tak sedikit guru dan orang tua mengeluhkan perubahan sikap siswa yang kini cenderung lebih individualis, minim empati sosial, dan bahkan kecanduan gadget.
“Kami melihat langsung bagaimana siswa jadi kurang fokus, emosinya labil, dan interaksi sosialnya menurun drastis. Pendidikan karakter tak bisa lagi hanya disampaikan lewat teori,” ujar Dwi Lestari, guru SD di Cibinong, Bogor kepada Beritastaoe.com, Jum'at 20/06.
Kondisi ini menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan untuk melakukan adaptasi sekaligus penguatan nilai-nilai karakter di tengah kemajuan teknologi. Pemerintah melalui Kurikulum Merdeka telah mencoba menjawab tantangan tersebut, antara lain melalui program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Program P5 dirancang untuk menanamkan enam nilai utama: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Namun sayangnya, di banyak daerah implementasi program ini masih belum optimal.
“Banyak sekolah yang belum siap karena keterbatasan pelatihan guru dan sarana pendukung. Padahal, pendidikan karakter harus menjadi prioritas,” tambah Dwi.
Pakar pendidikan menilai bahwa penguatan karakter di era digital tidak bisa hanya dibebankan pada guru atau sekolah. Peran orang tua dan lingkungan sosial juga menjadi kunci penting dalam membangun integritas dan empati siswa di era serba cepat ini.
Fakta Singkat.
92% siswa usia sekolah dasar hingga menengah di Indonesia memiliki akses ke gadget (BPS, 2024).

