BOGOR, (BS) – Dalam dunia konstruksi, akurasi bukan sekadar nilai tambah—tetapi syarat mutlak. Salah satu elemen vital yang membutuhkan pengukuran presisi adalah besi tulangan ulir (deformed bar), yang menjadi komponen utama dalam pembangunan struktur beton.
Namun, pertanyaannya: apakah alat ukur yang digunakan selama ini sudah benar?
Di lapangan, masih banyak pengawas proyek dan kontraktor yang mengandalkan jangka sorong digital (vernier caliper) untuk mengukur diameter besi ulir. Padahal, alat ini hanya mencatat puncak ulir, bukan diameter inti nominal yang menjadi acuan kekuatan tarik.
“Pengukuran diameter nominal besi ulir tidak bisa sembarangan. Harus dihitung rata-rata antara puncak dan dasar ulir, atau lebih baik lagi menggunakan metode uji laboratorium,” ujar seorang penguji teknis konstruksi saat ditemui di Bogor, Sabtu (2/8/2025).
Menurutnya, pengukuran yang akurat sebaiknya dilakukan di laboratorium dengan alat berstandar SNI atau ASTM. Alternatif lapangan yang cukup efektif adalah template pelat logam (rebar gauge), yaitu pelat berlubang dengan ukuran standar (D10, D12, D16, dst) untuk memverifikasi cepat apakah diameter besi sesuai spesifikasi RAB.
“Alat itu sederhana tapi cukup efektif untuk verifikasi awal. Namun, untuk keperluan hukum dan teknis, hanya uji laboratorium yang diakui.”
Laboratorium uji material dapat menentukan diameter nominal dan kekuatan tarik dengan akurasi tinggi, serta memastikan kualitas dan komposisi logam sesuai standar konstruksi. Dalam proyek-proyek strategis, hasil uji ini bahkan menjadi syarat pencairan termin anggaran.
Lebih dari sekadar soal teknis, ketidaktepatan dalam mengukur diameter besi bisa membuka celah bagi praktik nakal pengurangan volume material. Misalnya, besi yang seharusnya berdiameter 12 mm bisa saja diganti dengan 11,5 mm jika hanya diukur sekilas.
“Cacat pada satu batang besi bisa menjalar jadi kelemahan struktur. Ini bukan soal kecil,” tegasnya.

