Depok, (BS) — Kecamatan Sukmajaya menegaskan komitmennya menjadikan Program Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) sebagai gerakan pemberdayaan yang nyata dan berkelanjutan.
Perempuan kepala keluarga didorong menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan sosial.
Komitmen tersebut disampaikan Camat Sukmajaya, Christine Desima Arthauli Tobing, S.STP., M.A., usai kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sukmajaya yang digelar di Aula Kecamatan Sukmajaya, Jumat (30/1/2026).
Christine, yang akrab disapa Mpok Itin, menegaskan bahwa perempuan kepala keluarga memiliki potensi besar untuk saling menguatkan apabila difasilitasi dengan ruang yang tepat. Melalui Program PEKKA, pihaknya ingin membangun ekosistem dukungan berbasis solidaritas dan kolaborasi antaranggota.
“Tidak semua perempuan kepala keluarga itu lemah. Justru banyak yang kuat dan mandiri. PEKKA harus menjadi ruang di mana yang sudah mampu bisa membantu yang masih berproses, dan yang memiliki keterampilan dapat membimbing yang lain,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan PEKKA di Sukmajaya tidak diarahkan pada pola bantuan satu arah. Anggota didorong aktif berperan, berbagi pengalaman, serta tumbuh bersama melalui jejaring sesama perempuan kepala keluarga.
Sebagai langkah konkret, komunitas PEKKA Sukmajaya telah memperoleh dukungan dari PLN berupa booth usaha yang kini dimanfaatkan para anggota untuk berjualan.
Mayoritas usaha bergerak di sektor kuliner dan beroperasi setiap hari di lingkungan kecamatan.
“Saya berusaha mengakomodasi kebutuhan mereka. Bantuan booth ini menjadi pintu awal agar perempuan kepala keluarga memiliki peluang usaha dan sumber penghasilan sendiri,” kata Christine.
Namun penguatan PEKKA tidak berhenti pada aspek ekonomi semata. Ke depan, Kecamatan Sukmajaya berencana mengembangkan program yang menyentuh kebutuhan psikososial perempuan, seperti pertemuan rutin sebagai ruang berbagi, saling mendengarkan, dan penguatan mental.
“Perempuan tidak hanya membutuhkan dukungan finansial. Mereka juga ingin dimengerti, didengarkan, dan diberi masukan yang menenangkan. Ketika perempuan merasa bahagia dan kuat, keluarga anak maupun pasangan ikut merasakan dampaknya,” jelasnya.

