Lebak, (BS) - Chere merah atau padi beras merah salah satu varietas padi lokal yang sejak dulu sudah mulai digemari masyarakat.
Dalam catatan Jonathan Rigg melalui Kamus Sunda - Inggris (1862) nama varietas Chere tercatat dalam 17 varietas padi lokal yang cukup terkemuka pada masanya. Kini, varietas Chere merah agak sulit ditemui.
Penelusuran terkait varietas Chere merah kami dapatkan di wilayah Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek, lebih tepatnya Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, Minggu (25/5/2025).
Sementara kata pare (padi) berdasarkan kutipan dari Kamus Sunda - Inggris karya Jonathan Rigg itu disebut tumbuh secara teratur pada ketinggian yang sama, dan menghasilkan buah secara merata. Dengan demikian Papaharé, berdampingan, saling meniru; kata tersebut disingkat menjadi Paré.
Orang Sunda memiliki tradisi yang terkenal bahwa ada suatu masa ketika nenek moyang mereka tidak mengenal padi, tetapi hidup di Jégéng. Padi ditanam di lahan irigasi dan karenanya disebut Paré sawah, atau di dataran tinggi yang bergantung pada hujan dan disebut Paré humah atau Paré pasir.
Dalam catatannya jenis varietas padi yang cukup terkemuka pada waktu itu adalah Angsana Baheula, Angsana leutik, Banteng, Benteng, Beureum gede, Huis, Loyor, Seksek, Chere Bogor, Changkaruk, Gadog, Kadut, Melati, Pichung, Taropong, Tigaron, Tongsan, Chinde, Chokrom, Gajah menur, Gebang, Genja, Giliran dan Gimbal. (Deri)

