BOGOR – Jelang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau yang sekarang berganti jadi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Persoalan klasik pendidikan kembali berulang di Kabupaten Bogor. Terbatasnya daya tampung SMA Negeri menjadi kekhawatiran utama bagi ribuan lulusan SMP setiap tahunnya.

Di tengah meningkatnya jumlah penduduk dan pertumbuhan kawasan permukiman, ketersediaan bangku di sekolah negeri dinilai tidak lagi sebanding dengan jumlah calon peserta didik. Akibatnya, banyak siswa terancam tidak tertampung di SMA Negeri, meski memiliki keinginan dan kemampuan akademik yang memadai.

Fenomena ini paling terasa di wilayah padat seperti Cibinong, Dramaga, hingga Bogor Barat. Setiap tahun, persaingan masuk SMA Negeri semakin ketat, sementara penambahan unit sekolah baru berjalan relatif lambat.

Kondisi tersebut memaksa sebagian besar lulusan SMP harus mencari alternatif lain, baik ke sekolah swasta maupun ke jenjang SMK.

Namun, pilihan tersebut tidak selalu mudah bagi semua kalangan, terutama dari sisi ekonomi.

Wali Murid Resah, Biaya Jadi Pertimbangan

Sejumlah wali murid mengaku dilema menghadapi kondisi ini. Mereka harus memilih antara menyekolahkan anak ke SMA swasta dengan biaya lebih tinggi atau mengarahkan ke SMK yang belum tentu sesuai minat anak.

“Anak saya ingin masuk SMA Negeri, tapi peluangnya kecil karena kuotanya terbatas. Kalau ke swasta, kami harus hitung ulang kemampuan biaya,” ujar Siti (43), warga Cibinong.

Hal senada disampaikan Rudi (45), warga Leuwiliang. Ia menilai persoalan ini terus berulang tanpa solusi yang signifikan.