Bogor, (BS) – Prihatin dengan rendahnya tingkat literasi di masyarakat, Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Bogor bekerja sama dengan Institut Agama Islam Bogor (IAIB) menggelar Saresehan Literasi Diskusi Publik dan Bedah Buku "Menghadang Kubilai Khan". Acara ini menjadi ruang dialektika untuk mendorong semangat literasi di kalangan generasi muda.
Diskusi yang berlangsung di Aula Auditorium IAIB, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor digelar pada Minggu (16/2) dengan
mengangkat tema "Persatuan Nasional, Keadilan dan Kemakmuran Bangsa serta Koherensi Sosial." Sejumlah organisasi lokal, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIB, Karang Taruna, serta komunitas literasi lainnya, turut hadir untuk menyuarakan pentingnya literasi dalam membangun bangsa.
Ketua Umum JAKER, Anisa, menyoroti rendahnya minat baca di Indonesia, yang dinilai sebagai salah satu yang terendah di dunia.
"Padahal, kemajuan sebuah bangsa dapat diukur dari indeks literasi dan minat baca masyarakatnya. Jika literasi lemah, maka pemahaman terhadap kebudayaan dan ilmu pengetahuan pun akan tergerus," kata Anisa saat memberikan sambutan.
Pernyataan ini diamini oleh Anggota DPRD Komisi IV Kabupaten Bogor, Usep Nukliri, yang juga menjabat sebagai Rektor IAIB. Ia menegaskan bahwa literasi bukan hanya soal membaca, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan kebangsaan.
"Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini, karena literasi adalah fondasi bagi koherensi sosial dan pembangunan karakter bangsa," sambung Usep.
Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Syamsul Hidayat, menyoroti bagaimana era digital mengubah pola konsumsi informasi, yang berimbas pada menurunnya ketertarikan terhadap buku cetak.
"Hari ini kita dihadapkan pada persaingan antara buku cetak dan digital. Sayangnya, banyak anak muda yang lebih terpaku pada gawai dibandingkan membaca buku," ungkapnya.
Syamsul menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap literasi sejak dini, bahkan dari jenjang pendidikan anak usia dini.

