Bogor, (BS) - Di tengah hiruk pikuk pembangunan, ironi menghantam Desa Banjarwaru, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Saluran irigasi Cipalayangan, urat nadi pertanian dan kehidupan warga, terlantar bagai anak tiri. Padahal, anggaran pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) seharusnya menjamin kelancaran pasokan air.
Namun, fakta berbicara lain. Daerah Irigasi Cipalayangan, yang membentang sekitar 2 kilometer dari Kampung Bojongkaso, Desa Banjarsari, hingga melintasi sekolah Fathamubina dan BSIP Unggas dan Ternak di wilayah RW 05 dan RW 02 Desa Banjarwaru, kini hanya menjadi kenangan pahit.
Bayangkan, dulu air mengalir deras, menghidupi sawah, kolam, bahkan tempat ibadah. Sekarang? Yang tersisa hanya saluran kering kerontang, dipenuhi limbah dan genangan air yang menjadi sarang penyakit. Miris!
Ketidakberdayaan ini memicu aksi nyata dari warga. Dengan semangat gotong royong, mereka bahu-membahu membersihkan saluran irigasi, berharap setetes air kembali membasahi bumi mereka.
"Dalam kurun waktu selama kurang lebih tiga tahun terakhir, air di saluran tidak mengalir karena di hulu saluran di wilayah Desa Banjarsari terputus, sampai saat ini tidak ada perbaikan," kata Ketua RW 05 Desa Banjarwaru, Dedi Supiadi, saat memimpin kerja bakti warga, Minggu (02/11/2025).
Aktivitas kerja bakti ini menjadi oase di tengah gurun keputusasaan. Warga berupaya mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan yang disebabkan oleh kondisi irigasi yang memprihatinkan.
"Semua biaya bersih-bersih dengan alat seadanya semua dari masyarakat, dilakukan secara mandiri, kamu berprinsip air agar mengalir dulu, karena selama ini di titik ini tidak ada upaya normalisasi dari UPT atau PUPR," tandasnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan, saluran DI Cipalayangan mengalami penyempitan di beberapa titik akibat keberadaan bangunan-bangunan beton seperti sekolah, vila, pabrik, dan rumah warga.
Pertanyaan besar kemudian muncul. Ke mana perginya anggaran pemeliharaan yang seharusnya menjadi hak DI Cipalayangan? Dedi Supiadi tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

