Bogor, (BS) - Kampung Tarisi, Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, kini tengah menghadapi tantangan berat. Aktivitas pertanian di wilayah ini mengalami penurunan drastis akibat minimnya pasokan air pada saluran Irigasi Sodong. Kondisi ini bukan hanya mengancam produktivitas hasil panen, tetapi juga mata pencaharian warga yang bergantung pada sektor pertanian.
Kekeringan yang melanda Irigasi Sodong telah berlangsung cukup lama, namun dampaknya semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir. Para petani kesulitan mendapatkan air yang cukup untuk mengairi sawah mereka, sehingga tanaman menjadi layu dan hasil panen menurun secara signifikan. Situasi ini memaksa banyak petani untuk mengurangi luas lahan yang ditanami, bahkan ada yang terpaksa beralih profesi.
Tak hanya petani, pemilik usaha penggilingan padi pun merasakan imbas dari krisis air ini. Mak Emik, salah seorang pemilik penggilingan padi di Kampung Tarisi, mengaku bahwa usahanya terancam gulung tikar. Ia mengungkapkan bahwa selama ini, penggilingan padinya sangat bergantung pada hasil panen dari sawah-sawah yang dialiri oleh Irigasi Sodong.
"Dulu, setiap hari saya ada saja menggiling gabah. Sekarang, untuk mendapatkan padi yang mau digiling saja sulitnya minta ampun," keluh Mak Emik dengan nada sedih. Ia menambahkan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, ia tidak punya pilihan lain selain menutup usahanya.
Mak Emik menceritakan keluh kesahnya yang selama ini luput dari perhatian pemerintah terkait kondisi saluran Irigasi Sodong. Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk memperbaiki saluran irigasi tersebut, sehingga pasokan air kembali нормаль dan aktivitas pertanian di Kampung Tarisi bisa pulih seperti semula.
Menurut penuturan warga setempat, salah satu penyebab utama minimnya pasokan air di Irigasi Sodong adalah kerusakan saluran irigasi akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada awal tahun 2020. Banjir bandang tersebut menyebabkan sebagian saluran irigasi jebol dan tertutup material longsoran, sehingga aliran air menjadi terhambat.
Sejak saat itu, pasokan air dari sungai yang menjadi sumber utama Irigasi Sodong menjadi berkurang drastis. Kondisi ini diperparah dengan musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga debit air sungai semakin menyusut dan tidak mampu memenuhi kebutuhan irigasi bagi para petani.
Para petani dan warga Kampung Tarisi berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk mengatasi masalah ini. Mereka berharap pemerintah dapat segera memperbaiki saluran Irigasi Sodong yang rusak dan mencari solusi альтернатив untuk meningkatkan pasokan air bagi pertanian di wilayah tersebut.
Krisis air di Irigasi Sodong ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan infrastruktur pertanian. Kerusakan lingkungan dan infrastruktur dapat berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada sektor pertanian.

