Depok, (BS) - Debat sengit menyelimuti rencana pembangunan Masjid Agung Depok, khususnya terkait pemindahan lokasi dari lahan bekas Sekolah Pondok Cina Satu. Proyek yang awalnya diharapkan menjadi simbol kebanggaan Kota Depok ini justru memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Alasan di balik relokasi ini, menurut sejumlah tokoh masyarakat dan agama, adalah untuk mencari lokasi yang lebih strategis dan representatif sebagai ikon kota.

KH Abu Bakar Madris, seorang tokoh agama terkemuka, dengan tegas menyatakan bahwa relokasi ini bukanlah pembatalan proyek. Sebaliknya, ini adalah langkah cerdas untuk memastikan Masjid Agung benar-benar menjadi ikon kota yang membanggakan.

"Depok belum memiliki ikon masjid, terutama sebagai kota religius," ujar KH Abu Bakar Madris.

Beliau menjelaskan bahwa lahan seluas 700 meter persegi di Margonda tidak memadai untuk sebuah Masjid Agung. Bayangkan saja, area parkir saja membutuhkan lahan yang lebih luas, sekitar 1.000 meter persegi.

Karena keterbatasan lahan inilah, pembangunan Masjid Agung akhirnya dialihkan ke kawasan Jalan Juanda. KH Abu Bakar Madris menekankan bahwa tujuan relokasi ini adalah agar masjid yang dibangun tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan seluruh warga Depok. Idealnya, lahan seluas minimal 4.000 meter persegi dibutuhkan untuk mewujudkan masjid yang representatif.

"Bukan berarti kami menolak berdirinya masjid, tetapi tidak pantas jika Masjid Agung hanya seluas 700 meter. Tentu akan menjadi bahan tertawaan," tegasnya.

Saya sendiri membayangkan, bagaimana mungkin sebuah masjid agung yang diharapkan menjadi kebanggaan kota, justru terhimpit di lahan yang sempit? Tentu ini bukan representasi yang ideal.

Menanggapi berbagai komentar miring terkait relokasi ini, KH Abu Bakar Madris dengan nada bertanya balik:

"Dulu ke mana saja? Kenapa baru berkomentar sekarang?" kata KH Abu Bakar Madris.