Bogor, (BS) - Sebuah dugaan mencengangkan mencuat di Bogor: proyek infrastruktur pemerintah daerah terancam gagal total akibat praktik penggunaan material besi yang tidak sesuai standar. Penyelidikan di lapangan mengungkap indikasi kuat bahwa kontraktor proyek menggunakan besi berdiameter tidak sesuai, atau yang lebih dikenal dengan istilah "besi banci". Material ini jelas-jelas tidak memenuhi kekuatan struktural yang dipersyaratkan oleh standar nasional Indonesia (SNI).

Dari dokumentasi yang berhasil dikumpulkan, terlihat jelas bahwa diameter sejumlah batang besi lebih kecil dari spesifikasi yang tertera pada gambar kerja proyek. Praktik "besi banci" ini, sayangnya, sering menjadi jalan pintas bagi penyedia jasa konstruksi untuk memangkas biaya, namun dengan risiko besar terhadap keamanan dan kualitas bangunan itu sendiri.

Seorang pekerja yang memilih untuk tetap anonim membenarkan temuan ini.

"Datang sudah begitu dari supplier. Kami hanya pasang," ujarnya singkat, Senin (10/11/25).

Temuan ini mengindikasikan adanya kelemahan serius dalam sistem pengawasan proyek, terutama dari pihak konsultan dan dinas teknis yang seharusnya bertanggung jawab melakukan pengujian material sebelum proses pemasangan dimulai. Bagaimana bisa material substandard lolos begitu saja?

Sumber internal di dinas terkait mengungkapkan bahwa semua proyek pemerintah wajib berpedoman pada SNI 2052 tentang Baja Tulangan Beton. Standar ini mengatur secara ketat berbagai aspek, mulai dari toleransi diameter, tegangan leleh, hingga proses produksi material.

Penggunaan material di bawah standar bukan hanya melanggar peraturan pengadaan barang dan jasa, tetapi juga berpotensi menyeret pelaku ke ranah pidana jika terbukti merugikan negara atau membahayakan keselamatan publik. Konsekuensinya bisa sangat serius!

Praktik curang dengan menggunakan material di bawah mutu seringkali menjadi modus operandi dalam proyek-proyek besar yang menelan banyak anggaran. Jika dugaan ini terbukti benar, proyek di Bogor ini berisiko tinggi mengalami deformasi struktural, retak dini, bahkan yang terburuk, kegagalan konstruksi total.

Investigasi lebih lanjut tengah dilakukan untuk menelusuri dokumen teknis proyek, nilai kontrak, serta identitas perusahaan penyedia material yang memasok besi-besi "banci" tersebut. Siapa saja yang terlibat dalam praktik memalukan ini?