BOGOR, (BS) – Sejak diperkenalkan secara bertahap pada 2022, Kurikulum Merdeka mulai banyak diterapkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Kurikulum ini membawa semangat pembelajaran yang fleksibel, berpusat pada siswa, dan menekankan pada pembentukan karakter lewat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Untuk mengetahui bagaimana Kurikulum Merdeka berjalan di lapangan, tim kami mewawancarai seorang guru dan seorang siswa dari SMA Negeri 1 Bogor, salah satu sekolah yang sudah menerapkannya sejak awal.
Berikut petikan wawancara kami Media Online beritasatoe.com bersama Bapak Budi Sanjaya S.E. MM, Guru Ekonomi Sosiologi SMA Negeri 1 Tajurhalang Kabupaten Bogor.
Tanya (T): Bagaimana pengalaman Bapak mengajar dengan Kurikulum Merdeka?
Jawab (J): Jauh lebih menyenangkan dan menantang. Saya bisa menyesuaikan materi dengan konteks lokal dan minat siswa. Jadi, kelas lebih hidup dan tidak monoton.
T: Apa perubahan yang paling terasa dibanding Kurikulum 2013?
J: Di Kurikulum Merdeka, saya lebih bebas menentukan metode mengajar. Evaluasinya juga tidak sekadar angka, tapi deskriptif. Fokusnya pada proses, bukan hanya hasil.
T: Apa tantangan yang Bapak hadapi?
J: Menyusun proyek P5 dan modul ajar butuh waktu dan kreativitas. Tapi platform Merdeka Mengajar sangat membantu.

