BOGOR – Suasana haru menyelimuti kegiatan buka puasa bersama sekaligus penutupan Pesantren Kilat (Sanlat) di TK Lentera Jaya Makmur, Kampung Kadaung, Desa Rengasjajar, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jumat (6/3/2026).
Di balik kegiatan yang penuh kebersamaan tersebut, tersimpan kekhawatiran besar mengenai masa depan sekolah. Yayasan yang menaungi TK tersebut kini tengah menghadapi krisis operasional serius akibat terhentinya sumber pendanaan utama mereka.
Kondisi itu dipicu oleh kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menutup aktivitas pertambangan andesit di wilayah Cigudeg beberapa bulan lalu. Kebijakan tersebut berdampak langsung pada PT Batu Jaya Makmur, perusahaan yang selama ini menjadi penyokong utama operasional yayasan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Selama ini, TK Lentera Jaya Makmur menjadi harapan bagi sekitar 40 siswa untuk memperoleh pendidikan anak usia dini secara gratis. Seluruh kebutuhan pendidikan mereka ditanggung penuh oleh perusahaan, mulai dari seragam sekolah, buku tulis, hingga program pemberian makanan bergizi serta pemeriksaan kesehatan rutin.
Namun sejak aktivitas tambang dihentikan, aliran dana CSR otomatis terputus. Kondisi ini memicu kesulitan keuangan di internal yayasan, bahkan para guru disebut belum menerima gaji dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, para pengajar memilih tetap bertahan demi keberlangsungan pendidikan anak-anak.
Salah satu guru, Nisa, mengaku pihak sekolah berusaha menjaga semangat belajar siswa meskipun kondisi keuangan yayasan sedang tidak menentu.
“Kami tetap meyakinkan wali murid agar anak-anak terus belajar. Kami tidak ingin mereka ikut memikirkan masalah keuangan yayasan,” ujarnya.
Menurutnya, para guru memahami bahwa terhentinya gaji merupakan konsekuensi dari berhentinya operasional perusahaan yang selama ini menjadi tulang punggung pembiayaan sekolah.

