Bogor (BS) – Empat tahun pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Sukajaya, Kabupaten Bogor, sebuah rumah milik Irma Sriwidia Astuti, janda dengan empat orang anak, di Kampung Setu, Desa Jayaraharja, hingga kini masih dibiarkan dalam kondisi rusak parah dan tidak layak huni.
Rumah tersebut mengalami kerusakan hampir di seluruh bagian bangunan. Retakan tampak di dinding, sementara kondisi atap semakin lapuk. Sejumlah genteng bahkan telah jatuh, menyebabkan air hujan kerap masuk dan menggenangi bagian dalam rumah.
Kerusakan itu terjadi sejak gempa bumi pada tahun 2021. Namun keterbatasan ekonomi membuat Irma tidak mampu melakukan perbaikan.
“Awalnya waktu gempa, dinding mulai retak. Lama-lama karena hujan terus, gentengnya jatuh satu per satu,” ujar Irma saat ditemui di hunian kontrakannya, Selasa (16/12/2025).
Karena kondisi rumah dinilai membahayakan keselamatan, Irma akhirnya memutuskan meninggalkan rumah tersebut. Ia kini tinggal mengontrak di Hunian Tetap (Huntap) Kampung Gunung Koneng dengan biaya sewa Rp250 ribu per bulan.
“Kurang lebih empat tahun saya tinggal di rumah dengan kondisi hampir roboh. Selalu takut ambruk, makanya saya memilih ngontrak,” katanya.
Irma yang berstatus janda dan memiliki empat anak mengaku tidak memiliki penghasilan tetap. Sejak berpisah dengan suaminya, kebutuhan hidup sehari-hari hanya mengandalkan bantuan orang tua serta saudara.
Dengan kondisi tersebut, Irma berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah agar rumahnya dapat diperbaiki dan kembali layak ditempati.
“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah. Saya nggak punya suami dan nggak kerja,” ucapnya lirih.

