Bogor, (BS) - Masyarakat Desa Tegal Wangi, Kecamatan Jasinga hingga kini konsisten mempertahankan tatanan pertanian mulai dari tradisi mipit, varietas padi Chere lokal dan masih memiliki lumbung padi atau leuit yang tersebar di setiap penjuru.

Sebelumnya dalam Kamus Sunda - Inggris Karya Jonathan Rigg yang terbit pada tahun 1862 disebutkan pula daftar varietas padi yang terkenal di wilayah Jasinga (Eks Distrik Djasinga atau Wedana Jasinga-red) sebagai berikut;

Angsana Baheula, Angsana leutik, Banteng, Benteng, Beureum gede, Huis, Loyor, Seksek, Chere Bogor, Changkaruk, Gadog, Kadut, Melati, Pichung, Taropong, Tigaron, Tongsan, Chinde, Chokrom, Gajah menur, Gebang, Genja, Giliran dan Gimbal.

Menurut keterangan Aceng Fikri selaku Kasi Kesra Desa Tegalwangi, ia sempat mencatat ratusan leuit yang dimiliki masyarakatnya secara 
individu tersebar di 8 RW.

"Dulu kita pernah ada pendataan kurang lebih di Tegalwangi masih ada 300 lebih leuit," ucap Aceng kepada beritasatoe.com di kantor desa, Rabu (14/5/2025).

Aceng menambahkan varietas padi Chere di wilayahnya menjadi primadona yang terus-menerus dipertahankan.

"Chere, khusus Chere, cuman Chere itu ada dua jenis ada Chere merah dan Chere biasa (putih) tapi kebanyakan biasa, paling segelintir orang (Chere merah) mah," sambung dia.

Dia mengatakan panen raya hanya dua kali dalam setahun. Selain itu, prosesi mipit masih dilaksanakan.

"Setahun, dua kali. Masih ada, kalau kita bahasanya mipit, itu kan sebelum kita ambil padi ada ritual khusus bagi yang bisa," ujar Aceng.