Oleh: Susanto (Redaktur Media Online Beritasatoe.com)

BERITASATOE.COM - Di tengah dominasi angka-angka dan nilai ujian nasional, kita sering lupa bahwa pendidikan adalah tentang manusia, bukan sekadar skor atau rapor. Siswa bukan mesin penghafal, dan sekolah bukan pabrik yang memproduksi murid ranking satu. Lebih dari itu, pendidikan seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh, gagal, bangkit, dan menemukan jati diri.

Pendidikan hari ini terlalu fokus pada hasil akhir: nilai sempurna, kelulusan cepat, masuk universitas ternama. Akibatnya, proses belajar yang sejatinya penuh eksplorasi, dialog, dan pembentukan karakter, justru terpinggirkan. Banyak siswa menjadi cemas, takut salah, takut tidak memenuhi standar yang "diperhitungkan".

Padahal, belajar bukan hanya tentang benar atau salah. Belajar adalah perjalanan memahami diri sendiri dan dunia di sekitar. Proses itu butuh waktu, toleransi terhadap kesalahan, dan bimbingan yang manusiawi.

Saya percaya bahwa guru memiliki peran vital untuk mengubah cara pandang ini. Guru bukan hanya pengajar materi, tapi pendamping jiwa-jiwa muda yang sedang mencari arah hidup. Keteladanan, empati, dan cara guru memperlakukan siswanya bisa lebih membekas daripada soal pilihan ganda mana pun.

Demikian pula orang tua, seharusnya melihat anak tidak hanya dari nilai raport, tapi dari proses tumbuh mereka: apakah mereka makin percaya diri? Apakah mereka belajar menghargai orang lain? Apakah mereka punya semangat belajar seumur hidup?

Pendidikan yang baik bukan yang menghasilkan siswa jenius semata, tapi siswa yang siap menghadapi kehidupan—dengan nilai, integritas, dan hati yang utuh.

Akhirnya, Sudah saatnya kita menggeser paradigma pendidikan: dari sekadar hasil menuju proses yang bermakna. Karena pada akhirnya, bukan nilai ujian yang menentukan seseorang akan berhasil, tapi kemampuannya memahami diri, beradaptasi, dan terus belajar tanpa henti. (Red)