BERITASATOE.COM - Media sosial saat ini tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi informasi dan hiburan. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube semakin bergantung pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dalam menentukan konten yang muncul di linimasa pengguna.
Algoritma AI bekerja membaca kebiasaan, minat, hingga respons emosional pengguna, lalu menyajikan konten yang dianggap paling relevan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pengguna masih memiliki kendali atas informasi yang dikonsumsi, atau justru media sosial yang mengendalikan cara kita melihat realitas?
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh temuan survei Luminate dan Ipsos tahun 2025 yang menunjukkan bahwa 42 persen masyarakat Indonesia mengaku kesulitan membedakan konten buatan AI dengan konten asli. Ketika batas antara realitas dan rekayasa semakin kabur, media sosial berpotensi tidak hanya menjadi ruang informasi, tetapi juga arena manipulasi persepsi publik.
Bentuk AI di media sosial pun kian beragam.
Mulai dari filter wajah yang mampu mengubah ekspresi, suara sintetis yang meniru intonasi manusia, generator video berbasis teks, hingga teknologi deepfake. Yu Peipeng et al. (2021) menjelaskan bahwa deepfake memanfaatkan deep learning untuk memetakan wajah dan suara seseorang sehingga hasilnya nyaris tak dapat dibedakan dari rekaman asli. Bagi pengguna awam, konten semacam ini tampak meyakinkan dan autentik, sehingga tanpa disadari mereka dapat terjebak dalam ilusi visual dan audio yang menyesatkan.
Fenomena tersebut menunjukkan dua wajah AI di media sosial. Di satu sisi, AI berfungsi sebagai alat bantu yang mempermudah aktivitas pengguna, mulai dari personalisasi konten hingga efisiensi pencarian informasi.
Namun di sisi lain, AI juga dapat menjadi instrumen manipulasi yang berbahaya. Penelitian Alfin Renaldi et al. (2025) menemukan bahwa berita bohong di media sosial menyebar enam kali lebih cepat dibandingkan berita valid karena sifatnya yang emosional dan sensasional.
Algoritma platform memperkuat fenomena ini dengan memprioritaskan engagement, bukan kebenaran. Akibatnya, konten manipulatif termasuk konten berbasis AI lebih mudah viral dan membentuk opini publik tanpa proses verifikasi yang memadai.
Meski demikian, memposisikan AI semata-mata sebagai ancaman juga tidak sepenuhnya tepat.
AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas komunikasi digital. Penelitian Sargin (2024) menunjukkan bahwa personalisasi konten berbasis AI mampu meningkatkan loyalitas dan keterlibatan pengguna. Dalam konteks ini, AI dapat menjadi sarana untuk menghadirkan pengalaman media yang lebih relevan, informatif, dan bermakna sesuai kebutuhan audiens.
Dalam masyarakat digital, pengguna tidak lagi menginginkan arus informasi yang seragam. Mereka menuntut konten yang relevan, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan personal. AI, melalui kemampuannya membaca preferensi dan perilaku pengguna, mampu menjawab kebutuhan tersebut. Jika dimanfaatkan secara bijak, AI dapat menjadikan media sosial sebagai ruang edukatif, solutif, dan berorientasi pada kemaslahatan publik, termasuk sebagai medium dakwah digital dan penguatan relasi sosial.

