Oleh: Nurvita Sari .

Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor


BERITASATOE.COM - Banjir yang kembali melanda berbagai wilayah di Sumatera belakangan ini tidak lagi bisa dipahami sebagai peristiwa alam semata. Intensitas dan dampaknya yang semakin luas justru menjadi penanda serius adanya kerusakan lingkungan yang telah berlangsung lama. Hujan memang menjadi pemicu, namun penyebab utamanya jauh lebih dalam: degradasi hutan, rusaknya daerah resapan air, serta lemahnya tata kelola lingkungan.
Banyak pihak kerap menyalahkan curah hujan tinggi sebagai faktor utama banjir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang mencatat peningkatan kejadian hujan ekstrem akibat perubahan iklim.

Di sejumlah wilayah Sumatera, curah hujan bahkan mencapai lebih dari 300 hingga 400 milimeter per hari pada puncak musim hujan. Namun, hujan lebat tidak otomatis berubah menjadi bencana jika lingkungan masih berfungsi dengan baik.
Persoalannya, fungsi lingkungan di Sumatera kian tergerus.

Hutan sebagai penyerap air alami terus menyusut, sementara daerah resapan semakin menyempit akibat alih fungsi lahan. Akibatnya, air hujan yang seharusnya meresap ke tanah justru mengalir cepat ke permukaan, memenuhi sungai, lalu meluap ke permukiman warga. Dalam konteks ini, banjir di Sumatera lebih tepat dipahami sebagai akumulasi kebijakan dan aktivitas manusia, bukan semata bencana alam.

Data Forest Watch Indonesia (FWI) menunjukkan Sumatera kehilangan sekitar 4,3 juta hektare hutan sepanjang 2001–2018. Artinya, lebih dari 200 ribu hektare hutan hilang setiap tahun, sebagian besar akibat pembukaan lahan untuk perkebunan dan kepentingan industri. Ketika tutupan hutan berkurang drastis, kemampuan tanah menahan air pun ikut runtuh. Alam kehilangan keseimbangannya, dan masyarakat di hilir menanggung dampaknya.

Kerusakan hutan di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) memiliki efek berantai. Pakar hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa degradasi hutan di hulu secara signifikan meningkatkan debit banjir di wilayah hilir. Dengan kata lain, banjir bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan akibat langsung dari rusaknya sistem penyangga alam.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) juga mencatat, sejumlah DAS penting di Sumatera telah kehilangan lebih dari 50 persen tutupan hutannya. Kondisi ini membuat sungai sangat rentan meluap setiap kali hujan deras turun. 

Deforestasi tidak hanya meningkatkan risiko banjir, tetapi juga merusak habitat satwa liar. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan populasi harimau Sumatera kini diperkirakan tersisa sekitar 600 ekor, salah satunya akibat menyusutnya kawasan hutan.