Opini Pendididkan, BERITASATOE.COM – Apapun yang dilakukan para guru dalam upaya mendidik anak-anak, kini seolah selalu berada di posisi yang salah atau lemah. Mengapa? Karena negara ini tampaknya sudah berhenti memuliakan pendidikan. Padahal, pendidikan seharusnya menjadi ibu kandung kehidupan, ruang tempat lahirnya peradaban dan moral bangsa.
Masalah paling mendasar terlihat dari sistem penerimaan siswa yang tak pernah lepas dari persoalan moral. Dari praktik titipan anak pejabat, oknum dinas, anggota DPRD, hingga LSM penjual bangku sekolah. Sekolah sejak awal dibuat tak berdaya karena akses yang tidak merata, sehingga jual beli kursi menjadi hal yang dianggap “biasa”.
Di sisi lain, tiga dosa besar pendidikan sebagaimana disebut Menteri Nadiem Makarim pelecehan seksual, perundungan, dan intoleransi tak juga hilang dari ruang kelas. Pelecehan sering muncul karena relasi kuasa yang timpang, perundungan terjadi karena budaya kekerasan yang masih dibiarkan, sementara intoleransi tumbuh di ruang yang seharusnya menjadi taman keberagaman.
Guru kemudian harus memikul beban yang tak seimbang. Mereka bukan hanya mendidik, tetapi juga menjadi orang tua kedua bagi ratusan siswa dengan berbagai latar belakang masalah: anak korban perceraian, tekanan ekonomi, hingga persoalan emosional. Semua itu masuk ke ruang kelas, menuntut empati tanpa batas dari guru yang juga manusia biasa.
Kasus di SMAN 1 Cimarga, Lebak, menjadi cermin getir kondisi ini. Ketika ratusan siswa mogok belajar, Kepala Sekolah Bu Dini disebut melakukan tindakan disiplin fisik yang berujung pelaporan hukum. Benar, pendekatan kekerasan tidak dibenarkan. Namun menyalahkan guru sepenuhnya tanpa melihat tekanan struktural jelas tidak adil. Dalam kondisi di mana sekolah diminta menjaga nama baik lembaga, sementara perlindungan terhadap guru semakin melemah, dilema seperti ini bisa menimpa siapa saja.
Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Namun kini, ketika ada masalah, pihak pertama yang disalahkan adalah sekolah. Guru dituntut menjadi sempurna, tanpa pernah diberi ruang aman untuk melakukan kesalahan.
Sejak awal, moral guru dijejali kalimat idealis: guru adalah panggilan jiwa, guru bekerja dengan ikhlas, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Namun idealisme ini kini terasa seperti slogan kosong, ketika guru justru kehilangan martabat dan perlindungan di negeri yang katanya menjunjung tinggi pendidikan.
Penulis: Syabar Suwardiman, Guru di SMP BBS Kota Bogor (Sekretaris BMPS Kota Bogor)
Editor: Santo

