Beritasatoe.com, - Dalam diskursus kebijakan pendidikan mutakhir, terdapat kecenderungan kuat untuk memperkuat mekanisme pengawasan terhadap guru. Berbagai instrumen penilaian, sistem pelaporan digital, dan indikator kinerja diperkenalkan dengan dalih peningkatan mutu dan akuntabilitas.
Namun pertanyaan mendasarnya jarang diajukan secara jujur: apakah mutu pendidikan tumbuh dari semakin ketatnya pengawasan, atau dari kepercayaan terhadap profesionalisme guru?
Pengawasan berlebihan lahir dari paradigma kontrol. Paradigma ini memandang guru sebagai entitas yang perlu diawasi agar bekerja sesuai standar. Akibatnya, praktik pendidikan direduksi menjadi pemenuhan indikator, bukan pengembangan proses belajar yang bermakna.
Dalam teori pendidikan modern, guru dipahami sebagai reflective practitioner—profesional yang mengambil keputusan pedagogis berdasarkan konteks kelas, karakter siswa, dan dinamika sosial yang tidak bisa distandardisasi sepenuhnya. Ketika ruang refleksi ini dipersempit oleh kewajiban administratif, kualitas pengambilan keputusan justru melemah.
Alih-alih mendorong inovasi, sistem pengawasan yang rigid cenderung menghasilkan kepatuhan prosedural. Guru menjadi sangat berhati-hati, bukan karena ingin meningkatkan kualitas, tetapi karena takut dinilai tidak sesuai format. Dalam kondisi ini, kreativitas pedagogis berisiko dianggap sebagai penyimpangan.
Kepercayaan bekerja dengan logika yang berbeda. Ia menempatkan guru sebagai subjek profesional yang memiliki kapasitas moral dan intelektual. Dalam lingkungan yang berbasis kepercayaan, akuntabilitas tidak hilang, tetapi berubah bentuk—dari kontrol eksternal menjadi tanggung jawab internal.
Riset pendidikan global menunjukkan bahwa sistem yang kuat tidak membangun mutu melalui pengawasan mikro, melainkan melalui investasi pada kompetensi, kolaborasi, dan budaya refleksi. Evaluasi dilakukan untuk pembelajaran bersama, bukan untuk menghukum.
Dalam konteks pendidikan yang menghadapi tantangan kelas besar, keragaman latar belakang siswa, dan tekanan capaian kuantitatif, memperbanyak pengawasan tanpa memperbaiki kondisi struktural justru kontraproduktif. Beban guru bertambah, sementara fokus pada pembelajaran melemah.
Kepercayaan kepada guru bukan sikap naif, melainkan pilihan kebijakan yang strategis. Ia menuntut keberanian untuk menggeser paradigma dari mencurigai menjadi memberdayakan, dari mengontrol menjadi mendampingi.

