BERITASATOE.COM - Di tengah banjir informasi digital, kebenaran hari ini kerap kalah oleh popularitas. Ukuran benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh proses verifikasi, melainkan oleh seberapa sering sebuah konten dibagikan.
Di linimasa media sosial, potongan video pendek atau tangkapan layar tanpa konteks bisa dipercaya jutaan orang hanya dalam hitungan jam. Fenomena ini menandai perubahan serius dalam cara publik memercayai informasi, sekaligus menjadi ancaman bagi masa depan media dan kualitas demokrasi.
Media massa sejatinya dibangun di atas prinsip verifikasi, keberimbangan, dan akuntabilitas. Setiap berita melewati proses penyuntingan, konfirmasi sumber, dan tanggung jawab redaksional. Namun, kehadiran media sosial secara efektif menghapus “gerbang” tersebut.
Informasi kini dapat diproduksi dan disebarkan oleh siapa saja—tanpa standar jurnalistik, tanpa tanggung jawab hukum yang jelas, dan tanpa kewajiban melakukan koreksi.
Masalah ini diperparah oleh perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat. Reuters Institute Digital News Report 2023 mencatat Indonesia sebagai salah satu negara dengan ketergantungan tinggi terhadap media sosial sebagai sumber berita utama.
Lebih dari 61 persen responden Indonesia mengaku memperoleh berita dari platform seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan X. Pada saat yang sama, tingkat kepercayaan terhadap media arus utama cenderung stagnan.
Survei Katadata Insight Center (2022) menunjukkan hanya sekitar 43 persen masyarakat Indonesia yang menyatakan percaya penuh pada media massa. Ironisnya, informasi dari media sosial tetap dikonsumsi secara masif meskipun publik menyadari bahwa konten tersebut tidak sepenuhnya kredibel.
Data ini menegaskan sebuah paradoks: masyarakat paham risiko disinformasi, tetapi tetap menjadikan media sosial sebagai rujukan utama.
Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah algoritma platform digital.
Laporan Center for Humane Technology (2021) menyebutkan bahwa algoritma media sosial dirancang untuk memprioritaskan konten yang memicu reaksi emosional kuat karena terbukti meningkatkan durasi penggunaan. Akibatnya, konten provokatif, sensasional, dan kontroversial lebih sering muncul dibandingkan laporan faktual yang cenderung netral dan mendalam.

